Cermin Carut Marutnya Bangsa
Hasani Ahmad Said, M.A.
(Kandidat Doktor UIN Jakarta & Dosen Syariah IAIN Raden Intan Lampung)
*Tulisan ini dimuat di kolom Opini koran Kabar Banten, Selasa, 19 Oktober 2010
Imam Ali RA berpesan “Jadikanlah dirimu neraca dalam hubunganmu dengan orang lain. Sukailah orang lain sebagaimana engkau menyukai dirimu, dan sebaliknya. Jangan menganiaya sebagaimana engkau enggan dianiaya. berbuat baiklah sebagaimana engkau suka orang berbuat baik kepadamu. Jangan berucap satu katapun yang engkau tidak sukai kata itu diucapkan padamu”.
Dalam konteks berbangsa dan bernegara, pesan moral ini bisa saja dijadikan ‘ibrah bahwa jadikanlah negaramu menjadi neraca dalam hubungan dengan Negara lain. Dalam arti kata lain, kemampuan Negara lain mengelola kekayaan Negara yang berimbas pada kesejahteraan rakyatnya, sejatinya menjadi contoh untuk memajukan Negara ini. Kalau mau jujur, problematika kekinian Negara kita kian hari kian menunjukkan kerapuhannya.
Mulai dari kasus adegan banjir, gunung meletus, tabung meledak, perjudian dan prostitusi, kemiskinan, ancaman keretakan bangsa (disintegrasi), mengguritanya korupsi, janda pahlawan melawan pemerintah, penculikan anak, eksploitasi infotaimen, eksploitasi dan penjualan bayi, dan seabreg rapot merah lainnya, yang satu persatu permasalahannya bukan terselesaikan, malah kasusnya tenggelam digerus oleh silihberganti pemberitaan.
Ada sisi yang terlupakan dalam pengurusan bangsa ini yakni pentingnya generasi penerus. Generasi ini bisa terdiri dari anak, pemuda, dan generasi penerus lainnya. Kalau ada pengistilahan “Shubbanul yaum rijalul Ghadd” (pemudia hari ini adalah cermin pemuda masa akan dating), kalau pemuda hari ini di kasih “amunisi/gizi” baik dengan wawsan yang memadai, maka seperti itulah generasi 10 atau 50 tahun yang akan datang.
Satu sisi misalnya, di Indonesia, peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh setiap tanggal 23 Juli ternyata berbeda-beda pada tiap negara. Hari anak yang benar-benar dirayakan oleh seluruh dunia adalah pada tanggal 20 November. Tanggal tersebut diumumkan oleh PBB sebagai hari anak-anak sedunia. Organisasi anak di bawah PBB, yaitu UNICEF untuk pertama kali menyelenggarakan peringatan hari anak sedunia pada bulan Oktober tahun 1953. Tanggal 14 Desember 1954, Majelis Umum PBB lewat sebuah resolusi mengumumkan satu hari tertentu dalam setahun sebagai hari anak se-dunia yaitu pada tanggal 20 November.
Sejarah hari nasional bermula dari gagasan di era Soeharto yang melihat anak-anak sebagai aset kemajuan bangsa, sehingga mulai tahun 1984 berdasarkan Keputusan Presiden RI No 44 tahun 1984, ditetapkanlah setiap tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional. Kegiatan Hari Anak Nasional (HAN) dilaksanakan mulai dari tingkat pusat, hingga daerah, bahkan di luar negeri juga. Namun, belakangan ini berita hari-hari yang diperingati semisal hari anak nasional, telah tertutupi oleh pemberitaan media, baik politik, kompor gas meledak, berita perselingkuhan, dan seabreg berita lainnya. Semestinya diselenggarakan kegiatan bermacam-macam, mulai dari Seminar, lomba penelitian, Kongres anak, Perayaan Puncak HAN, lomba kreativitas, pameran, hingga pemecahan rekor melukis harapan anak.
Beberapa pekan ini, mungkin belum lama dalam ingatan kita nama Ridho ramai diberitakan di media. Ridho adalah potret masyarakat yang tidak mampu yang sedang memperjuangkan haknya sebagai warga Negara. Yang dituntut satu agar warga kelas bawah diperhatikan, jeritannya ini ternyata membuat nekad ibunya untuk membawa Ridho sampai ke istana Negara. Alasan kedatangan Ridho, mungkin sebagian “pejabat” kita menganggap sepele yaitu akibat terkena tabung gas yang meledak, tapi sesungguhnya dampaknya sangat besar terhadap keberlangsungan Ridho ke depan.
Inilah potret anak bangsa yang sedang memperjuangkan nasibnya. Padahal, di antara hak-hak asasi manusia adalah hak untuk memperoleh kesejahteraan, kebebasan, keadilan dan kedamaian di dunia. Dalam hal ini, anak-anak lebih memerlukan perhatian, dukungan dan keamanan di banding kelompok umur yang lain. Masa depan dunia yang lebih baik memerlukan dukungan kesehatan mental dan keamanan anak-anak. Berkenaan dengan ini, Majelis Umum PBB mengesahkan sebuah piagam yang disebutnya sebagai Konvensi Hak Anak-anak Se-Dunia. Seluruh negara di dunia selain Amerika dan Somalia ikut dalam konvensi tersebut.
UNICEF dengan pengesahan piagam tersebut berarti telah mengambil tindakan penyamaan seluruh anak di dunia dengan berbagai ragam ras dan etnisnya. Unicef menegaskan, tanpa diskriminasi apapun, anak-anak di dunia harus diberi perlindungan khusus oleh seluruh negara di dunia. Meskipun pengesahan piagam tersebut, merupakan langkah yang cukup berarti dalam merealisasikan hak anak-anak, akan tetapi para pemimpin dunia masih merasa perlu untuk menandatangani kesepakatan mengenai perbaikan kondisi anak-anak dunia dalam sidang tahun 1991.
Namun demikian, sampai awal milineum ketiga ini, kondisi kehidupan anak-anak dunia masih belum menunjukkan perbaikan yang memuaskan termasuk potret Ridho. Sebelum ini, masyarakat dunia telah menjanjikan akan menjadikan dekade pertama awal abad 21, sebagai dasawarsa budaya perdamaian dunia dan menolak kekerasan terhadap anak-anak. Namun, justru pada dasawarsa ini setiap harinya terdengar berita perang dan kekerasan yang memakan korban anak-anak. Perang-perang yang meletus akibat dendam dan permusuhan itu telah merampas rasa aman, penghormatan, kasih sayang dan perhatian dari anak-anak.
Sangat memiriskan hati, semestinya Undang-undang yang telah mengatur yang menjamin terjamin dan terlindunginya anak dari eksploitasi yang selama ini kita saksikan, sejatinya tidak terjadi lagi di Negara yang terkenal dengan keramahan dan melimpahnya kekayaan alamnya, justru malah memelintir kebijak tersebut dengan berbagai macam alas an. Belum lagi dengan sibuknya anggota dewan, wakil rakyat itu yang memperjuangkan pribadi dan kelompoknya membuat kepekaan terhadap masyarakat bawah semakin terpinggirkan. Sosok Ridho, sejatinya bisa dijadikan pelajaran, bahwa masih banyak Ridho-ridho lain yang saya kira nasibnya lebih tragis, bisa jadi akibat kebijakan pemerintah yang kurang populis.
Anak-anak merupakan penerus bangsa, pengganti para pemimpin sekarang, seandaainya salah dalam pengurusannya, maka generasi berikutnya akan terpangkas dan tidak akan menutup kemungkinan, sepuluh tahun yan g akan datang, atau bisa jadi pulhan tahun ke depan Negara kita tinggal namanay saja. Maka, kegelisahan ini bisa saja beralasa, dengan era globalisasi yang tidak bisa dibendung, teknologi yang kian membunuh karakter anak bnagsa karena salah mengurusnya.
Pada posisi ini, terletak pada orang tuanyalah pundak mereka ketika di rumah, tugas gurunyalah ketika berada di sekolah. Semoga dengan pengurusan yang baik, akan lahir kader-kader tangguh, cerdah, benar, yang dibarengi keimanan dan ketakwaan. Semoga anak Indonesia maju terus.!!!
* Penulis adalah Kandidat Doktor UIN Jakarta & Dosen IAIN Raden Intan Lampung. Tinggal di Pabean, Purwakarta, Cilegon, Banten.
اقرءباسم ربك الذي خلق GUBUG ILMU KANG HASAN: Jl.Pabean, link. Pabean, Kel. Pabean, no.10, Rt.01/01 Kec. Purwakarta, Kota Cilegon, Prov. Banten, 42437
Rabu, 20 Oktober 2010
Jumat, 15 Oktober 2010
CV: Mengenal Lebih Dekat
CURICULUM VITTAE
A. Identitas Diri
Nama : Hasani Ahmad Syamsuri, S.Th.I., M.A.
Jenis Kelamin : laki-laki
Tempat/Tgl Lahir : Pulomerak, Cilegon, 21 Februari 1982
Alamat : Jl. Pabean, Link. Pabean, Kel. Pabean No 10 Rt/Rw 01/01, Kec. Purwakarta, Kota Cilegon, Prop. Banten, 42437
Agama : Islam
E-mail : elhasan_ahsyamsun@yahoo.co.id
hasani_banten@yahoo.com
B. Pendidikan Formal
1. 2008- sekarang : Mahasiswa Program Doktor / Kandidat Doktor Islamic
Studies Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta; Sedang dalam Penulisan Disertasi.
2. 2005-2007 : S-2 Sekolah Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, Program Studi Kajian Islam, Konsentrasi Tafsir
Hadis;
3. 2005-2007 : Setara S-2 Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama (PKU)
Angkatan Ke VIII, MUI (Majlis Ulama Indonesia) DKI
Jakarta;
4. 2001-2005 : S-1 UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah
Jakarta, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir Hadis;
5. 1998-2001 : MA (Madrasah Aliyah) al-Khairiyah Karangtengah,
Cilegon Banten;
6. 1995-1998 : MTs (Madrasah Tsanawiyah) al-Khairiyah Karangtengah,
Cilegon Banten;
7. 1989-1995 : SDN (Sekolah Dasar Negeri) Pecinan Cilegon, Banten;
8. 1989-1995 : MI (Madrasah Ibtidaiyah) al-Khairiyah Karangtengah
Cilegon, Banten.
C. Pendidikan Non Formal
1. 1995-2000 : Pondok Pesantren Salafi Banu al-Qamar Cilegon Banten;
2. 2002 : Kursus Komputer dan Internet INMADA Jakarta;
3. 2003 : Kursus computer semua program di Computer Café Jakarta
4. 2005 : Kursus Bahasa Inggris di Oxford Cours Indonesia.
5. 2007-2008 : Kursus Bahasa di Pusat Bahasa dan Budaya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
6. 2010 : Pendidikan Kader Mufassir (PKM), Pusat Studi Alquran, Jakarta.
D. Pelatihan, Seminar, dan Lokakarya
1. 2010 : Peserta Seminar Nasional: “Terorisme Vs Penegakan Syariah di Indonesia; Akar Masalah dan Opini Publik & Integrasi Keilmuan di Lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta” Milad ke-43 dan Bulan Syariah Fakultad Syariah dan Hukum UIN Jakarta, 4-5 Mei 2010;
2. 2010 : peserta Liqâ Markaz al-Dirâsât al-Qur’âniyyah ma’a al-Ustâdz al-Duktûr ‘Abd al-Hay Husain al-Farmâwî, Ustâdz bi Jâmi’ah al-Azhhar bi al- Qâhirah, Jakarta, Pusat Studi Alquran, April 2010;
3. 2010 : Panitia Seminar Pendidikan dan Pengembangan Karir Islami, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta, 10 Maret 2010;
4. 2010 : Peserta Seminar Hukum dan Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta dengan MGMP se DKI Jakarta, 2010;
5. 2010 : Peserta One Day Seminar ‘A Conversation with Modernity, Auditorium SPs UIN Jakarta, March 30, 2010;
6. 2009 : peserta International Conference Islamic Law in The Modern World, Faculty Sharia and Law, Syarif Hidayatullah, State Islamic University (UIN), Jakarta, December, 18-20 2009 M./ Muharram 01-03 1431 H.;
7. 2009 : Peserta International Seminar, Urgency of Solidarity and Unity in The Islamic World, Jakarta, 19-20 December 2009, PBNU, Sultan Hotel;
8. 2009 : Peserta Pelatihan Penulisan karya Ilmiah Dosen Fakultas Syariah IAIN Raden Intan Lampung, 1 Desember 2009;
9. 2009 : Peserta Pembibitan/Pembekalan Calon Dosen dilingkungan IAIN Raden Intan Lampung, 26-27 Oktober, 2009;
10. 2008 : Peserta international conference Freedom and Right of Return; Palestina and 60 Yerars of Ethnic Cleansing, VOP (Voice of Palestina, International NGO’s Union for Supporting Palistinians Right, dan Universitas of Indonesia Centre for Midle East and Islamic Studies, di Makara Hotel UI Depok;
11. 2008 : peserta Pelatihan Training ESQ Ekskutif angkatan 73, di Menara 165
Jakarta;
12. 2006 : Peserta Seminar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, “Menggali Potensi Anak Usia Dini dalam Perspektif Pendidikan Islam, IAIA al- Aqidah Jakarta, Aula masjid Istiqlal, 25 Mei 2006;
13. 2006 : Peserta Seminar dan Launcing Buku Fiqih Aborsi “Wacana Penguatan Hak Reproduksi Perempuan;
14. 2006 : Peserta Sarasehan Ulama Jabodetabek dengan Tema “Ekonomi Syariah dan Perbangkan Syariah”, Wisma Tugu Jakarta, PKES, Muamalah Institut, dan MUI;
15. 2005 : Panitia Pelatihan Training Menejemen Organisasi Himpunan Qari’ dan Qori’ah Mahasiswa UIN Syarif Hidayatulah Jakarta;
16. 2004 : Peserta Dialog Publik “Penyatu Peradilan Upaya Penegakan Supremasi
Hukum di Indonesia”, BEMJ Peradilan Agama UIN Jakarta;
17. 2004 : Peserta Seminar Nasional “Mengembangkan Wacana Tafsir Kontemporer Hermeneutika Sebagai Metodologi;
18. 2004 : Peserta Seminar Nasional Islam dan Politik “Peluang Partai dan Politisi
Islam di Tengah Hegemoni Nasional dalam Pemilu 2004”;
19. 2003 : Peserta Seminar Tafsir “Menggagas Tafsir Emansipatoris: Antara Doktrin dan Realitas”;
20. 2003 : Peserta Semiloka dan Mukernas “Rekonstruktualisasi Al-Quran di Indonesia, Sebuah Gagasan Menuju Masyarakat Transformatif”;
21. 2003 : Peserta Aliansi Solidaritas Perempuan Indonesia “Damailah Acehku, Damai Sejahtera Indonesia”;
22. 2003 : Peserta Seminar Nasional “Mengurai Benang Kusut Relasi Jender, Antara Nature dan Nurture”;
23. 2003 : Peserta Semiloka Kurikulum dan Silabi Ekonomi Islam;
24. 2003 : Panitia Pelatihan Training Menejemen Organisasi Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Qur’an;
25. 2003 : Peserta Seminar Nasional “Tafsir Misoginis Dalam Kajian Tekstual dan
Kontekstual”;
26. 2003 : Peserta Seminar Hukum “Upaya Membangun Masyarakat Tentram dan
Tertib” (Mengkaji Ulang Perda DKI no 11/1998 Tentang
Kamtibnas);
27. 2003 : Peserta Seminar Peringatan Hari Kartini “Perempuan Dalam Tantangan dan Perubahan”;
28. 2003 : Peserta Diskusi Publik “Membincang Pergolakan Pemikiran Ahmad Wahib”;
29. 2003 : Peserta Seminar dan Bedah Buku “Huru-Hara Akhir Zaman”;
30. 2003 : Peserta Kongres V dan Dialog Nasional “Humanisme dalam Islam”
FORMASI (Forum Mahasiswa Syariah Se-Indonesia);
31. 2003 : Peserta Milad III LTTQ “Menyoal Dimensi Spiritual al-Quran dalam
Keilmuan”;
32. 2002 : Peserta Seminar Nasional “Telaah Pendidikan Agama dalam RUU
Sisdiknas”, BEM FITK, FAJAR, dan JIL, UIN Jakarta;
33. 2002 : Peserta Pelatihan Jurnalitik PMII KOMFAKSYA HUM, Cab. Ciputat, UIN Jakarta;
34. 2002 : Peserta Seminar Nasional “Penegakan HAM dan Gencatan Senjati di Aceh, BEM UIN Syahid”;
35. 2002 : Peserta Seminar Perguruan Tinggi Se-Jakarta “Membedah Pemikiran Fiqih Sosial KH.Ali Yafie” Pencarian Wacana Baru Fiqih Kontekstual, Solusi Problematika Kekinian;
36. 2002 : Peserta Seminar Nasional “Menggagas Teologi Perdamaian: Upaya
Rekonstruksi Pemahaman Keagamaan Berperadaban”;
37. 2001 : Peserta Pelatihan Training Kader “Membangun Etos Intelektual dan
Spiritualitas, Melalui Pengembangan Potensi dan Kreatifitas Seni Islami Berdasarkan Paradigma al-Quran” Himpunan Qori’ dan Qori’ah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
38. 2001 : Peserta Pelatihan Kader HMI (LK I) HMI Cabang Ciputat;
39. 2001 : Peserta Masa Orientasi Anggota Baru “Menjamah Bahasa, Menggenggam Dunia” Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bahasa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
40. 2001 : Peserta Training Manjemen Organisasi “Improfisasi Profesionalistis dalam Berorganisasi” HIQMA UIN Jakarta;
E. Pengalaman Organisasi
1. 1998-1999 : Ketua OSIS MA Al-Khairiyah Karang Tengah;
2. 2003-2004 : Ketua I Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Quran;
3. 2003-2004 : Ketua koordinator bidang Tilawah al-Qur’an Himpunan Qori’dan Qori’ah Mahasiswa UIN Jakarta
4. 2004-2005 : Ketua koordinator divisi Tahsin al-Qur’an Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Qura’an Masjid Fathullah UIN Syahid Jakarta
5. 2004-2005 : Pengurus Cabang HMI Ciputat;
6. 2004-2005 : Wakil Ketua HIQMA UIN Syahid Jakarta
7. 2003-Sekarang : Sekretaris Forum Silaturrahmi Jama’ah Masjid (FOSMA) Fathullah UIN Syahid Jakarta
8. 2005-Sekarang : Dewan Alumni HIQMA UIN Syahid Jakarta dan Dewan Pertimbangan Organisasi HIQMA UIN Jakarta;
9. 2006-2007 : Dewan Pertimbangan Organisasi pada LTTQ (Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Qur’an) Masjid Fathullah UIN Jakarta;
10. 2007-2008 : Direktur Public Relation pada LTTQ (Lembaha Tahfidz dan Ta’lim al-Qur’an) Masjid Fathullah UIN Jakarta;
11. 2008- sekarang : Instruktur tahsin Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Qur’an
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
F. Prestasi-Prestasi
1. 1999 : Juara III MTQ Tingkat Kecamatan Pulo Merak Cilegon Banten
2. 2003 : Juara III MSQ Tingkat Kabupaten Bekasi
3. 2004 : Juara I MTQ Tingkat Nasional Oxford Cours Indonesia bekerjasama
dengan DEPAG RI
4. 2004 : Juara III MSQ Tingkat Kabupaten Bekasi
5. 2004 : Juara II MSQ PIONIR Tingkat Nasional antar Mahasiswa se-IAIN
dan PTAIN di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung
6. 2004 : Juara I MTQ se-UIN BEMJ PBA UIN Syahid Jakarta
7. 2004 : Juara I MTQ GEBYAR HIQMA se-Jabodetabek
8. 2004 : Juara I MTQ se-Jabodetabek di Masjid al-Azhar
9. 2004 : Juara III MTQ se-Jabodetabek di Masjid Sunda Kelapa
memperebutkan Piala Menteri Agama RI, DEPAG RI
10. 2004 : Juara III MSQ Tingkat Kabupaten Tangerang
11. 2005 : Juara II MSQ Tingkat Kota Tangerang
12. 2005 : Juara I MSQ Tingkat Kabupaten Bekasi
G. Pengalaman Mengajar dan Pengabdian Masyarakat
1. 2009- sekarang : Dosen Tetap Fakultas Syariah IAIN Raden Intan, Lampung ;
2. 2008- sekarang : Asisten Profesor di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
3. 2008- sekarang : Asisten Profesor di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
4. 2008-sekarang : Dosen di Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
5. 2008-sekarang : Koordiator Laboratorium Ibadah dan Fatwa di Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ;
6. 2007 : Pengajar pelatihan seni baca al-Qur’an di di Yayasan Pesantren Nurul Iman, Pondok Aren, Tangerang, Banten.
7. 2005-sekarang : Pengajar Tilawah al-Qur’an di HIQMA (Himpunan Qari’ dan Qari’ah Mahasiswa) UIN Syahid Jakarta;
8. 2005-2006 : Pengajar Pelatihan Seni Baca al-qur’an di YPI al-Khairiyah Kebon Jeruk Jakarta;
9. 2004-2005 : Pengajar Tilawah al-Qur’an di SMP 87 Pondok Pinang Jaksel;
10. 2002- sekarang : Imam tetap Masjid Fathullah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ;
11. 2001 :Tenaga Pengajar Masjid Fathullah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ;
12. 2000-sekarang :Tenaga Pengajar Pendidikan Agama, Tilawah Al-Qur’an dan Tafsir ;
H. Karya-Karya Ilmiah
1. Eksistensi Manusia Perspektif al-Qur’an dan Hadis, Paper Madrasah Aliyah al-Khairiyah Cilegon, Banten, tahun 2001
2. Hadis tentang Azan Ditinjau dari Segi Sejarah; Kajian Masalah Azan Subuh dan Jumat, 2005, Skripsi S1 UIN Jakarta ;
3. Amstal dalam al-Qur’an, Makalah, makalah diseminarkan pada PPs S2 UIN Jakarta, 2006,;
4. Kajian Deskriptif terhadap Tafsir al-Hijri Karya K.H. Didin Hafiduddin, makalah diseminarkan pada PPs S2 UIN Jakarta, 2006;
5. Embriologi dalam al-Quran dan Ilmu Pengetahuan Moderen, 2007;
6. Wawasan al-Qur’an tentang Musibah, 2007;
7. Wanita dalam al-Qur’an, makalah PKU MUI DKI Jakarta, 2006;
8. Makna Tahun Baru Hijriah, makalah disampaikan pada Studium General di MA al-Khairiyah, Cilegon, Prop. Banten, 2006;
9. Corak Pemikiran Kalâm Tafsîr Fath al-Qâdîr; Telaah Atas Pemikiran al-Syaukânî Bidang Teologi Islam., Tesis S-2 SPs UIN Jakarta, 2007;
10. Syair-syair Cinta: Kajian tahlil terhadap Corak Kasidah Burdah karya al-Bushiri, Editor, Jakarta: Puspita Press, 2009;
11. Kepribadian Qur’ani, Editor, Jakarta: WNI, 2009;
1. Caknur di Mata Anak Muda, Kontributor Tulisan, Jakarta: Paramadina, 2008; Menimbang Perbankkan Syari’ah di Indonesia, Jurnal Bimas Islam, Vol. 2 no. 3, Tahun 2009;
2. Kesetaraan Jender dalam Perspektif Hukum Waris, Jurnal Bimas Islam, Tahun 2010;
3. Dimensi Ruhani Manusia dalam Al-Qur’an dan Tasawuf, Jurnal Bimas Islam, Tahun 2010;
12. Diskursus Munasah Alquran dalam Tafsir al-Mishbah: Upaya Kontekstualisasi Penafsiran Alquran di Indonesia, disertasi UIN Jakarta sedang dalam penggarapan, 2010- sekarang;
13. Sportifitas Politik; Berlaga di Kancah Pilkada, opini Radar Lampung, 30 Juni 10;
14. Kisruh Meledaknya Tabung Gas, Opini Radar Banten, 7 Juli 10;
15. Meledaknya Tabung Gas, Opini Lampung Post, 8 Juli 10;
16. Meninjau Ulang Kenaikan TDL, Opini lamung Post, 20 Juli 10;
17. Bom Waktu Tabung Gas, Opini Kabar Banten, 26 Juli 10;
18. Ramadhan dan Renungan Kematian, Opini Kabar Banten, Agustus 2010;
19. Ramadan dan Tabir Kehidupan, Opini lampung Post, Jum'at, 20 Agustus 2010;
20. Tradisi Pulang Kampung, Opini Kabar Banten, 7 September 2010;
21. Halal Bihalal; Pribumisasi Ajaran Islam, Opini Kabar Banten, Sabtu 18 September 2010;
22. Halalbihalal Meneguhkan Pluralisme, Opini Lampung Post, Senin 20 September 2010;
23. Banten “Primadona Ibu Kota RI, Opini Kabar Banten, Rabu, 22 September 2010;
24. Meluruskan Makna Jihad (1), Opini Radar Banten, Sabtu 25 September 10;
25. Meluruskan Makna Jihad (2), Opini, Kabar Banten, 25 September 10;
26. Memaknai Fungsi Masjid, Opini Kabar Banten, Jumat 31 September 2010;
27. Masjid, Simbol Peradaban Islam, Opini, Lampung Post, Jum'at, 8 Oktober 2010;
28. Dimensi Ruhani Manusia, Opini Kabar Banten, Sabtu, 9 Oktober 10.
A. Identitas Diri
Nama : Hasani Ahmad Syamsuri, S.Th.I., M.A.
Jenis Kelamin : laki-laki
Tempat/Tgl Lahir : Pulomerak, Cilegon, 21 Februari 1982
Alamat : Jl. Pabean, Link. Pabean, Kel. Pabean No 10 Rt/Rw 01/01, Kec. Purwakarta, Kota Cilegon, Prop. Banten, 42437
Agama : Islam
E-mail : elhasan_ahsyamsun@yahoo.co.id
hasani_banten@yahoo.com
B. Pendidikan Formal
1. 2008- sekarang : Mahasiswa Program Doktor / Kandidat Doktor Islamic
Studies Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta; Sedang dalam Penulisan Disertasi.
2. 2005-2007 : S-2 Sekolah Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, Program Studi Kajian Islam, Konsentrasi Tafsir
Hadis;
3. 2005-2007 : Setara S-2 Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama (PKU)
Angkatan Ke VIII, MUI (Majlis Ulama Indonesia) DKI
Jakarta;
4. 2001-2005 : S-1 UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah
Jakarta, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir Hadis;
5. 1998-2001 : MA (Madrasah Aliyah) al-Khairiyah Karangtengah,
Cilegon Banten;
6. 1995-1998 : MTs (Madrasah Tsanawiyah) al-Khairiyah Karangtengah,
Cilegon Banten;
7. 1989-1995 : SDN (Sekolah Dasar Negeri) Pecinan Cilegon, Banten;
8. 1989-1995 : MI (Madrasah Ibtidaiyah) al-Khairiyah Karangtengah
Cilegon, Banten.
C. Pendidikan Non Formal
1. 1995-2000 : Pondok Pesantren Salafi Banu al-Qamar Cilegon Banten;
2. 2002 : Kursus Komputer dan Internet INMADA Jakarta;
3. 2003 : Kursus computer semua program di Computer Café Jakarta
4. 2005 : Kursus Bahasa Inggris di Oxford Cours Indonesia.
5. 2007-2008 : Kursus Bahasa di Pusat Bahasa dan Budaya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
6. 2010 : Pendidikan Kader Mufassir (PKM), Pusat Studi Alquran, Jakarta.
D. Pelatihan, Seminar, dan Lokakarya
1. 2010 : Peserta Seminar Nasional: “Terorisme Vs Penegakan Syariah di Indonesia; Akar Masalah dan Opini Publik & Integrasi Keilmuan di Lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta” Milad ke-43 dan Bulan Syariah Fakultad Syariah dan Hukum UIN Jakarta, 4-5 Mei 2010;
2. 2010 : peserta Liqâ Markaz al-Dirâsât al-Qur’âniyyah ma’a al-Ustâdz al-Duktûr ‘Abd al-Hay Husain al-Farmâwî, Ustâdz bi Jâmi’ah al-Azhhar bi al- Qâhirah, Jakarta, Pusat Studi Alquran, April 2010;
3. 2010 : Panitia Seminar Pendidikan dan Pengembangan Karir Islami, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta, 10 Maret 2010;
4. 2010 : Peserta Seminar Hukum dan Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta dengan MGMP se DKI Jakarta, 2010;
5. 2010 : Peserta One Day Seminar ‘A Conversation with Modernity, Auditorium SPs UIN Jakarta, March 30, 2010;
6. 2009 : peserta International Conference Islamic Law in The Modern World, Faculty Sharia and Law, Syarif Hidayatullah, State Islamic University (UIN), Jakarta, December, 18-20 2009 M./ Muharram 01-03 1431 H.;
7. 2009 : Peserta International Seminar, Urgency of Solidarity and Unity in The Islamic World, Jakarta, 19-20 December 2009, PBNU, Sultan Hotel;
8. 2009 : Peserta Pelatihan Penulisan karya Ilmiah Dosen Fakultas Syariah IAIN Raden Intan Lampung, 1 Desember 2009;
9. 2009 : Peserta Pembibitan/Pembekalan Calon Dosen dilingkungan IAIN Raden Intan Lampung, 26-27 Oktober, 2009;
10. 2008 : Peserta international conference Freedom and Right of Return; Palestina and 60 Yerars of Ethnic Cleansing, VOP (Voice of Palestina, International NGO’s Union for Supporting Palistinians Right, dan Universitas of Indonesia Centre for Midle East and Islamic Studies, di Makara Hotel UI Depok;
11. 2008 : peserta Pelatihan Training ESQ Ekskutif angkatan 73, di Menara 165
Jakarta;
12. 2006 : Peserta Seminar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, “Menggali Potensi Anak Usia Dini dalam Perspektif Pendidikan Islam, IAIA al- Aqidah Jakarta, Aula masjid Istiqlal, 25 Mei 2006;
13. 2006 : Peserta Seminar dan Launcing Buku Fiqih Aborsi “Wacana Penguatan Hak Reproduksi Perempuan;
14. 2006 : Peserta Sarasehan Ulama Jabodetabek dengan Tema “Ekonomi Syariah dan Perbangkan Syariah”, Wisma Tugu Jakarta, PKES, Muamalah Institut, dan MUI;
15. 2005 : Panitia Pelatihan Training Menejemen Organisasi Himpunan Qari’ dan Qori’ah Mahasiswa UIN Syarif Hidayatulah Jakarta;
16. 2004 : Peserta Dialog Publik “Penyatu Peradilan Upaya Penegakan Supremasi
Hukum di Indonesia”, BEMJ Peradilan Agama UIN Jakarta;
17. 2004 : Peserta Seminar Nasional “Mengembangkan Wacana Tafsir Kontemporer Hermeneutika Sebagai Metodologi;
18. 2004 : Peserta Seminar Nasional Islam dan Politik “Peluang Partai dan Politisi
Islam di Tengah Hegemoni Nasional dalam Pemilu 2004”;
19. 2003 : Peserta Seminar Tafsir “Menggagas Tafsir Emansipatoris: Antara Doktrin dan Realitas”;
20. 2003 : Peserta Semiloka dan Mukernas “Rekonstruktualisasi Al-Quran di Indonesia, Sebuah Gagasan Menuju Masyarakat Transformatif”;
21. 2003 : Peserta Aliansi Solidaritas Perempuan Indonesia “Damailah Acehku, Damai Sejahtera Indonesia”;
22. 2003 : Peserta Seminar Nasional “Mengurai Benang Kusut Relasi Jender, Antara Nature dan Nurture”;
23. 2003 : Peserta Semiloka Kurikulum dan Silabi Ekonomi Islam;
24. 2003 : Panitia Pelatihan Training Menejemen Organisasi Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Qur’an;
25. 2003 : Peserta Seminar Nasional “Tafsir Misoginis Dalam Kajian Tekstual dan
Kontekstual”;
26. 2003 : Peserta Seminar Hukum “Upaya Membangun Masyarakat Tentram dan
Tertib” (Mengkaji Ulang Perda DKI no 11/1998 Tentang
Kamtibnas);
27. 2003 : Peserta Seminar Peringatan Hari Kartini “Perempuan Dalam Tantangan dan Perubahan”;
28. 2003 : Peserta Diskusi Publik “Membincang Pergolakan Pemikiran Ahmad Wahib”;
29. 2003 : Peserta Seminar dan Bedah Buku “Huru-Hara Akhir Zaman”;
30. 2003 : Peserta Kongres V dan Dialog Nasional “Humanisme dalam Islam”
FORMASI (Forum Mahasiswa Syariah Se-Indonesia);
31. 2003 : Peserta Milad III LTTQ “Menyoal Dimensi Spiritual al-Quran dalam
Keilmuan”;
32. 2002 : Peserta Seminar Nasional “Telaah Pendidikan Agama dalam RUU
Sisdiknas”, BEM FITK, FAJAR, dan JIL, UIN Jakarta;
33. 2002 : Peserta Pelatihan Jurnalitik PMII KOMFAKSYA HUM, Cab. Ciputat, UIN Jakarta;
34. 2002 : Peserta Seminar Nasional “Penegakan HAM dan Gencatan Senjati di Aceh, BEM UIN Syahid”;
35. 2002 : Peserta Seminar Perguruan Tinggi Se-Jakarta “Membedah Pemikiran Fiqih Sosial KH.Ali Yafie” Pencarian Wacana Baru Fiqih Kontekstual, Solusi Problematika Kekinian;
36. 2002 : Peserta Seminar Nasional “Menggagas Teologi Perdamaian: Upaya
Rekonstruksi Pemahaman Keagamaan Berperadaban”;
37. 2001 : Peserta Pelatihan Training Kader “Membangun Etos Intelektual dan
Spiritualitas, Melalui Pengembangan Potensi dan Kreatifitas Seni Islami Berdasarkan Paradigma al-Quran” Himpunan Qori’ dan Qori’ah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
38. 2001 : Peserta Pelatihan Kader HMI (LK I) HMI Cabang Ciputat;
39. 2001 : Peserta Masa Orientasi Anggota Baru “Menjamah Bahasa, Menggenggam Dunia” Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bahasa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
40. 2001 : Peserta Training Manjemen Organisasi “Improfisasi Profesionalistis dalam Berorganisasi” HIQMA UIN Jakarta;
E. Pengalaman Organisasi
1. 1998-1999 : Ketua OSIS MA Al-Khairiyah Karang Tengah;
2. 2003-2004 : Ketua I Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Quran;
3. 2003-2004 : Ketua koordinator bidang Tilawah al-Qur’an Himpunan Qori’dan Qori’ah Mahasiswa UIN Jakarta
4. 2004-2005 : Ketua koordinator divisi Tahsin al-Qur’an Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Qura’an Masjid Fathullah UIN Syahid Jakarta
5. 2004-2005 : Pengurus Cabang HMI Ciputat;
6. 2004-2005 : Wakil Ketua HIQMA UIN Syahid Jakarta
7. 2003-Sekarang : Sekretaris Forum Silaturrahmi Jama’ah Masjid (FOSMA) Fathullah UIN Syahid Jakarta
8. 2005-Sekarang : Dewan Alumni HIQMA UIN Syahid Jakarta dan Dewan Pertimbangan Organisasi HIQMA UIN Jakarta;
9. 2006-2007 : Dewan Pertimbangan Organisasi pada LTTQ (Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Qur’an) Masjid Fathullah UIN Jakarta;
10. 2007-2008 : Direktur Public Relation pada LTTQ (Lembaha Tahfidz dan Ta’lim al-Qur’an) Masjid Fathullah UIN Jakarta;
11. 2008- sekarang : Instruktur tahsin Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Qur’an
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
F. Prestasi-Prestasi
1. 1999 : Juara III MTQ Tingkat Kecamatan Pulo Merak Cilegon Banten
2. 2003 : Juara III MSQ Tingkat Kabupaten Bekasi
3. 2004 : Juara I MTQ Tingkat Nasional Oxford Cours Indonesia bekerjasama
dengan DEPAG RI
4. 2004 : Juara III MSQ Tingkat Kabupaten Bekasi
5. 2004 : Juara II MSQ PIONIR Tingkat Nasional antar Mahasiswa se-IAIN
dan PTAIN di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung
6. 2004 : Juara I MTQ se-UIN BEMJ PBA UIN Syahid Jakarta
7. 2004 : Juara I MTQ GEBYAR HIQMA se-Jabodetabek
8. 2004 : Juara I MTQ se-Jabodetabek di Masjid al-Azhar
9. 2004 : Juara III MTQ se-Jabodetabek di Masjid Sunda Kelapa
memperebutkan Piala Menteri Agama RI, DEPAG RI
10. 2004 : Juara III MSQ Tingkat Kabupaten Tangerang
11. 2005 : Juara II MSQ Tingkat Kota Tangerang
12. 2005 : Juara I MSQ Tingkat Kabupaten Bekasi
G. Pengalaman Mengajar dan Pengabdian Masyarakat
1. 2009- sekarang : Dosen Tetap Fakultas Syariah IAIN Raden Intan, Lampung ;
2. 2008- sekarang : Asisten Profesor di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
3. 2008- sekarang : Asisten Profesor di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
4. 2008-sekarang : Dosen di Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
5. 2008-sekarang : Koordiator Laboratorium Ibadah dan Fatwa di Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ;
6. 2007 : Pengajar pelatihan seni baca al-Qur’an di di Yayasan Pesantren Nurul Iman, Pondok Aren, Tangerang, Banten.
7. 2005-sekarang : Pengajar Tilawah al-Qur’an di HIQMA (Himpunan Qari’ dan Qari’ah Mahasiswa) UIN Syahid Jakarta;
8. 2005-2006 : Pengajar Pelatihan Seni Baca al-qur’an di YPI al-Khairiyah Kebon Jeruk Jakarta;
9. 2004-2005 : Pengajar Tilawah al-Qur’an di SMP 87 Pondok Pinang Jaksel;
10. 2002- sekarang : Imam tetap Masjid Fathullah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ;
11. 2001 :Tenaga Pengajar Masjid Fathullah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ;
12. 2000-sekarang :Tenaga Pengajar Pendidikan Agama, Tilawah Al-Qur’an dan Tafsir ;
H. Karya-Karya Ilmiah
1. Eksistensi Manusia Perspektif al-Qur’an dan Hadis, Paper Madrasah Aliyah al-Khairiyah Cilegon, Banten, tahun 2001
2. Hadis tentang Azan Ditinjau dari Segi Sejarah; Kajian Masalah Azan Subuh dan Jumat, 2005, Skripsi S1 UIN Jakarta ;
3. Amstal dalam al-Qur’an, Makalah, makalah diseminarkan pada PPs S2 UIN Jakarta, 2006,;
4. Kajian Deskriptif terhadap Tafsir al-Hijri Karya K.H. Didin Hafiduddin, makalah diseminarkan pada PPs S2 UIN Jakarta, 2006;
5. Embriologi dalam al-Quran dan Ilmu Pengetahuan Moderen, 2007;
6. Wawasan al-Qur’an tentang Musibah, 2007;
7. Wanita dalam al-Qur’an, makalah PKU MUI DKI Jakarta, 2006;
8. Makna Tahun Baru Hijriah, makalah disampaikan pada Studium General di MA al-Khairiyah, Cilegon, Prop. Banten, 2006;
9. Corak Pemikiran Kalâm Tafsîr Fath al-Qâdîr; Telaah Atas Pemikiran al-Syaukânî Bidang Teologi Islam., Tesis S-2 SPs UIN Jakarta, 2007;
10. Syair-syair Cinta: Kajian tahlil terhadap Corak Kasidah Burdah karya al-Bushiri, Editor, Jakarta: Puspita Press, 2009;
11. Kepribadian Qur’ani, Editor, Jakarta: WNI, 2009;
1. Caknur di Mata Anak Muda, Kontributor Tulisan, Jakarta: Paramadina, 2008; Menimbang Perbankkan Syari’ah di Indonesia, Jurnal Bimas Islam, Vol. 2 no. 3, Tahun 2009;
2. Kesetaraan Jender dalam Perspektif Hukum Waris, Jurnal Bimas Islam, Tahun 2010;
3. Dimensi Ruhani Manusia dalam Al-Qur’an dan Tasawuf, Jurnal Bimas Islam, Tahun 2010;
12. Diskursus Munasah Alquran dalam Tafsir al-Mishbah: Upaya Kontekstualisasi Penafsiran Alquran di Indonesia, disertasi UIN Jakarta sedang dalam penggarapan, 2010- sekarang;
13. Sportifitas Politik; Berlaga di Kancah Pilkada, opini Radar Lampung, 30 Juni 10;
14. Kisruh Meledaknya Tabung Gas, Opini Radar Banten, 7 Juli 10;
15. Meledaknya Tabung Gas, Opini Lampung Post, 8 Juli 10;
16. Meninjau Ulang Kenaikan TDL, Opini lamung Post, 20 Juli 10;
17. Bom Waktu Tabung Gas, Opini Kabar Banten, 26 Juli 10;
18. Ramadhan dan Renungan Kematian, Opini Kabar Banten, Agustus 2010;
19. Ramadan dan Tabir Kehidupan, Opini lampung Post, Jum'at, 20 Agustus 2010;
20. Tradisi Pulang Kampung, Opini Kabar Banten, 7 September 2010;
21. Halal Bihalal; Pribumisasi Ajaran Islam, Opini Kabar Banten, Sabtu 18 September 2010;
22. Halalbihalal Meneguhkan Pluralisme, Opini Lampung Post, Senin 20 September 2010;
23. Banten “Primadona Ibu Kota RI, Opini Kabar Banten, Rabu, 22 September 2010;
24. Meluruskan Makna Jihad (1), Opini Radar Banten, Sabtu 25 September 10;
25. Meluruskan Makna Jihad (2), Opini, Kabar Banten, 25 September 10;
26. Memaknai Fungsi Masjid, Opini Kabar Banten, Jumat 31 September 2010;
27. Masjid, Simbol Peradaban Islam, Opini, Lampung Post, Jum'at, 8 Oktober 2010;
28. Dimensi Ruhani Manusia, Opini Kabar Banten, Sabtu, 9 Oktober 10.
Menghidupkan Filologi di Banten
Menghidupkan Filologi di Banten
Oleh: Hasani Ahmad Said
(Kandidat Doktor UIN Jakarta & Dosen IAIN Raden Intan Lampung, Tinggal di Pabean, Cilegon)
*Tulisan ini dimuat di kolom Opini Kabar Banten, Kamis, 14 Oktober 2010
Pekan ini, mulai marak pemberitaan yang mulai melongok situs bersejarah, tempat ziarah yang berkedudukan di Banten Lama, yang kian hari kian tidak terurus dan bahkan memprihatinkan keadaannya.
Bukan itu saja, di daerah pemakaman yang sudah tidak asing lagi bagi awak media Televisi yang selalu mengabadikan situs-situs sejarah. Kini, pemandangan sehasri-hari disesaki dengan para pengemis dan Gepeng yang terkadang “Memaksa” sedekah, atau sekedar menawarkan jasa kantong plastik.
Situs sejarah selalu akan bersentuhan dengan kajian arkeologi dan filologi. Saat ini, kajian filologi belum banyak di minati oleh beberapa kalangan, bahkan peneliti sekalipun, termasuk di Banten. Meskipun ilmu ini, tidak dikatan baru, tetapi gaungnya belum terasa, bisa jadi di beberapa perguruan tinggi belum memasukkan studi filologi dalam sebuah silabus untuk diajarkan paling tidak setingkat mahasiswa, termasuk di dalamnya di Banten.
Sekilas meninjau sejarah Banten, secara geografis maupun teritorial, Banten telah lama bersentuhan sekaligus bersinggungan dengan masuknya kerajaan besar Islam, budaya Hindu, Budha, mistisime, dan lain sebagainya. Terlihat misalnya terpampang dengan jelas terdapat benteng bekas kerajaan Islam dengan relif ukiran-ukiran kaligrafi Arab, batu nisan, peninggalan “Batu Qur’an” yang bernuansa artistic.
Ini artinya, peninggalan itu bukan barang mati belaka, sesungguhnya peninggalan itu bisa dihidupkan dengan kajian pernaskahan (filologi).
Seminar sehari tentang “Filologi dan penguatan kajian Islam Indonesia” yang pernah diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama Puslitbang Lektur Keagamaan Balai Diklat Kementerian Agama RI pada beberapa pecan yang lalu perlu disambut dengan baik.
Dalam seminar ini menghadirkan beberapa pembicara. Di antaranya, Prof. Azyumardi Azra, sebagai keynot speech, Prof. Atho Mudzhar, Prof. Hendri-Chambert Loir, Dr. Oman Fathurrahman, dan Dr. Fuad Jabali. Yang menarik dari seminar ini berupaya untuk menghidangkan sekaligus menjelaskan kajian naskah (filologi) bukan terbatas pada sumber-sumber sejarah, sastra dan tasawuf, akan tetapi bukan hanya berhenti pada tataran itu saja bisa juga dalam karya lain semisal sumber fiqih, syariah (hukum Islam), tafsir, bahkan tidak jarang ditemukan juga naskah-naskah kuno yang bersumber dari budaya.
Penekanannya pada bagaimana mengupayakan penemuan sumber primer yang dianjurkan kepada para pengajar, peneliti, dan praktisi pendidikan melalui seminar, kuliah dan kajian ilmiah lainnya. Bila merujuk ke belakang, tradisi tulis menulis telah lama berjalan dalam kancah wacana lokal Islam (Islamic local discourse) di Indonesia.
Banyak faktor pendukung yang menjadi media, bukan hanya pada media kertas saja, tetapi sudah dilakukan pula pada batu, kulit binatang, tulang, bahkan daun. Kajian pernaskahan nusantara di bilang masih awal di Indonesia. Dalam kajian awal, Prof. Azyumardi Azra mengatakan bahwa kajian pernaskahan di nusantara telah di mulai dari tahun 80-an.
Di antara para pengkaji adalah Prof. Peunoh Dali yang mengkaji teks naskah “Mir’ah al-thullâb”, selanjutnya pernah dilakukan oleh Prof. Salman Harun yang mengkaji teks “Tafsir Tarjuman al-Mustafid” keduanya karya Syaikh Abdurrauf Singkel, Prof. Moh. Ardani membahas kajian teks-teks jawa, yang menarik mereka tidak dikatakan atau tidak bergelar filolog.
Selanjutnya, kajian filologi secara khusus di dalami oleh Prof. Nabilah Lubis sebagai peletak awal pengembangan filologi di IAIN kemudian sampai berubah menjadi UIN Jakarta. Salah satu muridnya adalah Dr. Oman Fathurrahman, dialah kemudian yang melanjutkan estafet pelanjut kajian ini dengan mengambil program S-3 dengan mengambil konsentrasi Filologi di UI.
Ilmu filologi yang selama ini mungkin dianggap sebagai kajian yang sukar, sudah mulai bergeliat menjadi reformulasi keilmuan. Bahkan saat ini, di SPs UIN Jakarta sendiri sudah membuka program khusus kajian filologi, atas kerjasama Puslitbang Lektur Keagamaan Balitbang dan Diklat Kemenag RI.
Bahkan sebelum kajian di atas, Syekh Imam Nawawi Banten (w. 1314 H./ 1897 M.) memiliki banyak kitab baik dalam bentuk manuskrip maupun yang telah naik cetak yang sayangnya tidak sampai ke Indonesia, apalagi tidak ada kesadaran dari masyarakat Banten untuk melestarikan, atau dalam bahasa lain, karya-karyanya adalah kekayaan intelektual karya asli wong Banten.
Sehingga generasi penerusnya, tidak tahu karya asli tersebut, atau bisa jadi sebagian masyarakat Banten mengenalpun tidak sosok Nawawi. Forum kajian Kitab Kuning (FK3) menyebutkan beliau menulis 100 kitab lebih dalam berbagai bidang. Di antara sekian banyak karya Syekh Nawai yang dikenal dan terlacak adalah Tijan al-Durar, Nûr al-Dhalam, Fath al-Majid, Tafsir al-Munir, Qami’ al-Tughyan, Tanqih al-Qaul, Sullam al-Munajat, Nihayah al-Zain, kasyifah al-Syaja’, nashaih al-‘Ibad, Minhaj al-Raghibun, dan Uqud al-Lujain fi bayan Huquq al-Jauzayn.
Kalau mau melacak, tidak menutup kemungkinan banyaknya pesantren di Banten, juga melahirkan banayk manuskrip yang terserak di beberapa Ponpes, yang hanya dinikmati oleh pesantren dan santri setempat saja sebagai benda “pusaka dan keramat”.
Ada sebuah catatan penting meminjam bahasa Edwar Said seorang orientalis Kristen berkebangsaan Palestina “from with in” bahwa dalam menjelaskan dan mengkaji Islam, kita harus mengkaji dari dalam, bukan sebaliknya “from with out”. Maksudnya adalah mengkaji tentang Islam sejatinya belajar dari diri dan dari penulis para pengkaji Islam sendiri, bukan dari non Islam.
Hal ini dimungkinkan dilakukan agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman tentang kajian tersebut, atau paling tidak akan terjaga keobjektifitasan dari pengkaji. Begitupula dalam mengkaji naskah-naskah Islam. Walupun teori ini bisa saja dipatahkan dan di kritik, agar tidak terjadi pengungkapan terhadap pola pikir dan paradigma.
Pendek kata, naskah yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah makhtûthât merupakan budaya dan warisan intelektual yang merefleksikan keadaan ketika itu, baik dari sisi sosial, keagamaan, pemikiran, dan termasuk kemajuan dari peradaban masyarakat lokal sekitar.
Kalau demikian halnya, kajian atas pernaskahan menjadi sebuah keniscayaan dan kajian ini menjadi penting. Di beberapa daerah masih banyak terdapat aksara pegon yang bertuliskan Arab, atau tepatnya aksara Arab. Bahkan bisa dimungkin naskah yang ada di nusantara ada ketekaitan dengan Belanda dan Jepang yang pernah menjajah Indonesia. Dan Banten menjadi salah satu Provinsi yang bersentuhan dengan kesejarahan itu.
Saya kira masih sangat banyak naskah yang belum tergarap, baik naskah Jawi, Banten, Sunda, Melayu, Bugis, dan lain-lain. Selain itu, seperti telah disinggung di pembahasan awal, bahwa pernaskahan bukan hanya ditulis di atas kertas saja, akan tetapi banyak juga media naskah termasuk yang tertulis di tembok bahkan nisan-nisan.
Memang filologi terpaku pada kerumitan pembacaan teks, tetapi bukan berarti kerumitan ini akan menenggelamkan semangat keingintahuan kajian terhadap teks. Belum lagi dengan problem sejarah lampau nusantara yang banyak merelakan naskah-naskah nusantara yang banyak diboyong ke Negara lain.
Selain banyak pula karya manuskrip (makhtûthât) yang masih dianggap sakral oleh beberapa kalangan yang ada di beberapa tempat semisal keraton dan tempat-tempat suci lainnya. Problem yang lain adalah banyak karya naskah karya ulama Indonesia yang tinggal di Negara lain. Dan pada intinya kajian ini merefleksikan kembali dalam rangka menghidupkan khazanah intelektual bangsa yang kian ditinggalkan peminatnya.
Pada akhirnya, kajian filologi atas pernaskahan nusantara sejatinya mulai digagas untuk dimasukkan dalam kurikulum perguruan tinggi, agar penyebarannya lebih meluas pada tataran masyarakat luas, seperti kajian keislaman lainnya seperti kajian fikih, syariah, ushuluddin, dan lain-lain. Bahkan sejatinya menjadi tanggung jawab pemerintah juga untuk melestarikan dan menjada kekayaan intelektual yang tidak ternilai harganya. Kalau bukan kita siapa lagi.!!!.[Wallâhu a’lam bi al-shawâb]
*Penulis adalah kandidat Doktor Islamic Studies Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dosen IAIN Fakultas Syariah Raden Intan, Lampung, tinggal di kel. Pabean, Kec. Purwakarta, Cilegon, Banten. Email: elhasan_ahsyamsun@yahoo.co.id
Oleh: Hasani Ahmad Said
(Kandidat Doktor UIN Jakarta & Dosen IAIN Raden Intan Lampung, Tinggal di Pabean, Cilegon)
*Tulisan ini dimuat di kolom Opini Kabar Banten, Kamis, 14 Oktober 2010
Pekan ini, mulai marak pemberitaan yang mulai melongok situs bersejarah, tempat ziarah yang berkedudukan di Banten Lama, yang kian hari kian tidak terurus dan bahkan memprihatinkan keadaannya.
Bukan itu saja, di daerah pemakaman yang sudah tidak asing lagi bagi awak media Televisi yang selalu mengabadikan situs-situs sejarah. Kini, pemandangan sehasri-hari disesaki dengan para pengemis dan Gepeng yang terkadang “Memaksa” sedekah, atau sekedar menawarkan jasa kantong plastik.
Situs sejarah selalu akan bersentuhan dengan kajian arkeologi dan filologi. Saat ini, kajian filologi belum banyak di minati oleh beberapa kalangan, bahkan peneliti sekalipun, termasuk di Banten. Meskipun ilmu ini, tidak dikatan baru, tetapi gaungnya belum terasa, bisa jadi di beberapa perguruan tinggi belum memasukkan studi filologi dalam sebuah silabus untuk diajarkan paling tidak setingkat mahasiswa, termasuk di dalamnya di Banten.
Sekilas meninjau sejarah Banten, secara geografis maupun teritorial, Banten telah lama bersentuhan sekaligus bersinggungan dengan masuknya kerajaan besar Islam, budaya Hindu, Budha, mistisime, dan lain sebagainya. Terlihat misalnya terpampang dengan jelas terdapat benteng bekas kerajaan Islam dengan relif ukiran-ukiran kaligrafi Arab, batu nisan, peninggalan “Batu Qur’an” yang bernuansa artistic.
Ini artinya, peninggalan itu bukan barang mati belaka, sesungguhnya peninggalan itu bisa dihidupkan dengan kajian pernaskahan (filologi).
Seminar sehari tentang “Filologi dan penguatan kajian Islam Indonesia” yang pernah diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama Puslitbang Lektur Keagamaan Balai Diklat Kementerian Agama RI pada beberapa pecan yang lalu perlu disambut dengan baik.
Dalam seminar ini menghadirkan beberapa pembicara. Di antaranya, Prof. Azyumardi Azra, sebagai keynot speech, Prof. Atho Mudzhar, Prof. Hendri-Chambert Loir, Dr. Oman Fathurrahman, dan Dr. Fuad Jabali. Yang menarik dari seminar ini berupaya untuk menghidangkan sekaligus menjelaskan kajian naskah (filologi) bukan terbatas pada sumber-sumber sejarah, sastra dan tasawuf, akan tetapi bukan hanya berhenti pada tataran itu saja bisa juga dalam karya lain semisal sumber fiqih, syariah (hukum Islam), tafsir, bahkan tidak jarang ditemukan juga naskah-naskah kuno yang bersumber dari budaya.
Penekanannya pada bagaimana mengupayakan penemuan sumber primer yang dianjurkan kepada para pengajar, peneliti, dan praktisi pendidikan melalui seminar, kuliah dan kajian ilmiah lainnya. Bila merujuk ke belakang, tradisi tulis menulis telah lama berjalan dalam kancah wacana lokal Islam (Islamic local discourse) di Indonesia.
Banyak faktor pendukung yang menjadi media, bukan hanya pada media kertas saja, tetapi sudah dilakukan pula pada batu, kulit binatang, tulang, bahkan daun. Kajian pernaskahan nusantara di bilang masih awal di Indonesia. Dalam kajian awal, Prof. Azyumardi Azra mengatakan bahwa kajian pernaskahan di nusantara telah di mulai dari tahun 80-an.
Di antara para pengkaji adalah Prof. Peunoh Dali yang mengkaji teks naskah “Mir’ah al-thullâb”, selanjutnya pernah dilakukan oleh Prof. Salman Harun yang mengkaji teks “Tafsir Tarjuman al-Mustafid” keduanya karya Syaikh Abdurrauf Singkel, Prof. Moh. Ardani membahas kajian teks-teks jawa, yang menarik mereka tidak dikatakan atau tidak bergelar filolog.
Selanjutnya, kajian filologi secara khusus di dalami oleh Prof. Nabilah Lubis sebagai peletak awal pengembangan filologi di IAIN kemudian sampai berubah menjadi UIN Jakarta. Salah satu muridnya adalah Dr. Oman Fathurrahman, dialah kemudian yang melanjutkan estafet pelanjut kajian ini dengan mengambil program S-3 dengan mengambil konsentrasi Filologi di UI.
Ilmu filologi yang selama ini mungkin dianggap sebagai kajian yang sukar, sudah mulai bergeliat menjadi reformulasi keilmuan. Bahkan saat ini, di SPs UIN Jakarta sendiri sudah membuka program khusus kajian filologi, atas kerjasama Puslitbang Lektur Keagamaan Balitbang dan Diklat Kemenag RI.
Bahkan sebelum kajian di atas, Syekh Imam Nawawi Banten (w. 1314 H./ 1897 M.) memiliki banyak kitab baik dalam bentuk manuskrip maupun yang telah naik cetak yang sayangnya tidak sampai ke Indonesia, apalagi tidak ada kesadaran dari masyarakat Banten untuk melestarikan, atau dalam bahasa lain, karya-karyanya adalah kekayaan intelektual karya asli wong Banten.
Sehingga generasi penerusnya, tidak tahu karya asli tersebut, atau bisa jadi sebagian masyarakat Banten mengenalpun tidak sosok Nawawi. Forum kajian Kitab Kuning (FK3) menyebutkan beliau menulis 100 kitab lebih dalam berbagai bidang. Di antara sekian banyak karya Syekh Nawai yang dikenal dan terlacak adalah Tijan al-Durar, Nûr al-Dhalam, Fath al-Majid, Tafsir al-Munir, Qami’ al-Tughyan, Tanqih al-Qaul, Sullam al-Munajat, Nihayah al-Zain, kasyifah al-Syaja’, nashaih al-‘Ibad, Minhaj al-Raghibun, dan Uqud al-Lujain fi bayan Huquq al-Jauzayn.
Kalau mau melacak, tidak menutup kemungkinan banyaknya pesantren di Banten, juga melahirkan banayk manuskrip yang terserak di beberapa Ponpes, yang hanya dinikmati oleh pesantren dan santri setempat saja sebagai benda “pusaka dan keramat”.
Ada sebuah catatan penting meminjam bahasa Edwar Said seorang orientalis Kristen berkebangsaan Palestina “from with in” bahwa dalam menjelaskan dan mengkaji Islam, kita harus mengkaji dari dalam, bukan sebaliknya “from with out”. Maksudnya adalah mengkaji tentang Islam sejatinya belajar dari diri dan dari penulis para pengkaji Islam sendiri, bukan dari non Islam.
Hal ini dimungkinkan dilakukan agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman tentang kajian tersebut, atau paling tidak akan terjaga keobjektifitasan dari pengkaji. Begitupula dalam mengkaji naskah-naskah Islam. Walupun teori ini bisa saja dipatahkan dan di kritik, agar tidak terjadi pengungkapan terhadap pola pikir dan paradigma.
Pendek kata, naskah yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah makhtûthât merupakan budaya dan warisan intelektual yang merefleksikan keadaan ketika itu, baik dari sisi sosial, keagamaan, pemikiran, dan termasuk kemajuan dari peradaban masyarakat lokal sekitar.
Kalau demikian halnya, kajian atas pernaskahan menjadi sebuah keniscayaan dan kajian ini menjadi penting. Di beberapa daerah masih banyak terdapat aksara pegon yang bertuliskan Arab, atau tepatnya aksara Arab. Bahkan bisa dimungkin naskah yang ada di nusantara ada ketekaitan dengan Belanda dan Jepang yang pernah menjajah Indonesia. Dan Banten menjadi salah satu Provinsi yang bersentuhan dengan kesejarahan itu.
Saya kira masih sangat banyak naskah yang belum tergarap, baik naskah Jawi, Banten, Sunda, Melayu, Bugis, dan lain-lain. Selain itu, seperti telah disinggung di pembahasan awal, bahwa pernaskahan bukan hanya ditulis di atas kertas saja, akan tetapi banyak juga media naskah termasuk yang tertulis di tembok bahkan nisan-nisan.
Memang filologi terpaku pada kerumitan pembacaan teks, tetapi bukan berarti kerumitan ini akan menenggelamkan semangat keingintahuan kajian terhadap teks. Belum lagi dengan problem sejarah lampau nusantara yang banyak merelakan naskah-naskah nusantara yang banyak diboyong ke Negara lain.
Selain banyak pula karya manuskrip (makhtûthât) yang masih dianggap sakral oleh beberapa kalangan yang ada di beberapa tempat semisal keraton dan tempat-tempat suci lainnya. Problem yang lain adalah banyak karya naskah karya ulama Indonesia yang tinggal di Negara lain. Dan pada intinya kajian ini merefleksikan kembali dalam rangka menghidupkan khazanah intelektual bangsa yang kian ditinggalkan peminatnya.
Pada akhirnya, kajian filologi atas pernaskahan nusantara sejatinya mulai digagas untuk dimasukkan dalam kurikulum perguruan tinggi, agar penyebarannya lebih meluas pada tataran masyarakat luas, seperti kajian keislaman lainnya seperti kajian fikih, syariah, ushuluddin, dan lain-lain. Bahkan sejatinya menjadi tanggung jawab pemerintah juga untuk melestarikan dan menjada kekayaan intelektual yang tidak ternilai harganya. Kalau bukan kita siapa lagi.!!!.[Wallâhu a’lam bi al-shawâb]
*Penulis adalah kandidat Doktor Islamic Studies Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dosen IAIN Fakultas Syariah Raden Intan, Lampung, tinggal di kel. Pabean, Kec. Purwakarta, Cilegon, Banten. Email: elhasan_ahsyamsun@yahoo.co.id
Minggu, 10 Oktober 2010
DIMENSI RUHANI MANUSIA
DIMENSI RUHANI MANUSIA
Oleh: Hasani Ahmad Said*
*Tulisan ini pernah dimuat di Opini Koran Kabar Banten,Sabtu,9 Okt 2010
Manusia secara fisik tak ubahnya seperti belalang kecil yang hinggap di pohon-pohon. Tetapi dalam diri yang kecil itu terdapat arsy Tuhan, yang luasnya lebih luas dari bumi dan langit, demikian ungkapan Jalaludin Rumi.
Manusia pada hakikatnya terdiri atas dua dimensi. Dimensi jasmani dan ruhani. Dua dimensi itu selayaknya harus tersentuh proses pembelajaran dalam hidup manusia. Dimensi ruhani ada dan terdapat dalam qalbu, ruh, nafs, dan aqal yang pada gilirannya membawa ketentraman baik jiwa manusia di tengah kegelisahan kehidupan dunia modern sekarang, atau malah sebaliknya.
Baiklah coba satu persatu diuraikan dalam tulisan ini untuk menemukan eksistensi manusia sesungguhnya sebagai manusia yang diposiskan sesempurnanya ciptaan. Pertama Qalb yang bermakna membalik, kembali, maju-mundur, naik turun, berubah-ubah. Kata ini digunakan untuk menamai bagian dalam dari manusia yang menjadi sentral diri manusia itu sendiri, yang kita terjemahkan dengan hati.
Qalb yang suci bagaikan bola lampu kristal yang jernih dan tampak titik apinya, tempat bertemunya minyak dan api, dari luarnya diterangi oleh cahaya iman sedangkan di dalamnya diterangi cahaya ruh suci; sehingga terberkatilah dua rumah: rumah jiwa dan rumah jasad oleh cahaya-cahaya tersebut
Al-Ghazali (w. 505 H.), dari kalangan sufi, mencoba menjelaskan pengertian qalb dengan terlebih dahulu membuat kategori yakni qalb dalam pengertian fisik, yaitu segumpal daging sebagian organ tubuh yang terletak pada bagian kiri ronga dada, dan merupakan sentral peredaran darah; di mana darah itu yang membawa kepada kehidupan. Al-Ghazali mengatakan, hati dalam kategori ini adalah hati biologis yang menjadi obyek kajian para ahli kesehatan.
Kedua adalah ruh, kata ruh berasal dari akar kata r w h. Dalam hal ini, makna resmi kata tersebut yang berarti nyawa yang menggerakkan makhluk hidup, dapat dipahami secara intuitif sebagai udara yang menggerakkan jasad manusia. Karena udara tidak dapat dilihat, maka demikian pula ruh, yang hanya dapat dirasakan keberadaannya yang seperti angin itu.
Ruh mengantar pada ilahi, jasad membawa pada keduniawian. Ruhani adalah yang mengendalikan, memberikan visi dan nilai-nilai bimbingan kepada jiwa-jiwa nabati, hewani dan insani. Ruh kita sesungguhnya perwujudan arsy Tuhan. Jangkauannya lebih luas dari bumi.
Jadi, kalau kita mencintai dunia berarti kita memenjarakan ruh kita di sangkar yang kecil. Mana mungkin burung elang itu bisa bahagia di dalam sangkar yang kecil. Bebaskan ruh kita dari sangkar dunia.
Dalam kalangan sufi, ruh tidak mereka definisikan, tetapi mereka melihatnya dari sisi bahwa ruh adalah alat bagi manusia dalam berhubungan dengan Tuhan. Ruh iru erat hubungannya dengan jantung, di mana ia beredar bersama peredaran darah, sehingga kalau detak jantung sudah berhenti, maka berakhir pulalah ruh itu.
Akan tetapi, ruh yang menjadi sasaran tasawuf adalah ruh lathifah al-‘Alimah al-mudrikah min al-insan (sesuatu yang halus, yang mengetahui dan mempersepsi, yang terdapat dalam diri manusia), atau sama pengertiannya hati dalam kategori kedua di atas.
Ketiga, nafs, istilah nafs dalam al-Qur’an yang jama’nya anfus dan nufus diartikan jiwa (soul), pribadi (person), diri (self atau selves), hidup (life), hati (heart), atau pikiran (mind), di samping juga dipakai untuk beberapa arti lainnya.
Mengungkap tentang al-nafs tidak dapat dipisahkan dengan ruh; sejatinya keduanya harus didudukkan sapu paket. Ruh itu dari Allah (Qul al-ruhu min amri Rabbi), sedangkan Allah itu maha suci dan immateri. Maka ruh itupun bersifat immateri dan suci.
Nurcholis Madjid menjelaskan bahwa nafs atau nafsu, emosi, memiliki kecenderungan terhadap kejelekan. Namun demikian, emosi yang ada pada manusia ibarat pisau bermata dua, emosi dapat membawa bencana, tetapi juga mendorong manusia mencapai puncak keilmuan yang sangat tinggi.
Nafsu menempati bagian jantung manusia, sedang akal menempati otak manusia.
Al-Qur’an juga menyebut “Fakasauna al-idzama lahma” lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging (Q.S. Al Mu’minun [23]:14). Tatkala usia kandungan sembilan puluh hari proses pembentukan tubuh mulai berlangsung.
Maka nafs (jiwa), sebaiknya dipahami sebagai totalitas daya-daya ruhani berikut interaksinya dan aktualisasinya dalam kehidupan manusia. Quraish Shihab cenderung memahami nafs sebagai sesuatu yang merupakan hasil perpaduan jasmani dan ruhani manusia. Perpaduan yang kemudian menjadikan yang bersangkutan mengenal perasaan, emosi, dan pengetahuan serta dikenal dan dibedakan dengan manusia-manusia lainnya.
Keempat, ‘Aql yang berarti ikatan, batasan, atau menahan. Al-Ghazali meng-kategorikan akal atas dua pengertian. Pertama akal dikaitkan dengan pengetahuan tentang suatu realitas, kedua akal diartikan sama dengan kalbu. Jadi hati tak berbeda dengan akal. Meski demikian, kaum sufi menempatkan akal identik dengan dzawk (perasaan batin). Oleh karena itu, mereka berkeyakinan bahwa akal yang mampu mempersepsi sesuatu, sehingga menjadi sebuah konsep.
Dari uraian di atas, bisa dikatakan bahwa manusia tidak terlepas dari empat dimensi di atas. Kemudian, hati, ruh, nafsu, dan akal akan membawa kepada manusia yang sesungguhnya. Dalam artian bahwa dengan empat dimensi itu, manusia akan menjadi posisi/kedudukan yang terhormat, juga sebaliknya, bisa juga dalam posisi tersungkur atau hina.
Alquran menggambarkan mengenai penciptaan manusia sebaik-baik ciptaan (fî ahsani taqwîm). Akan tetapi posisi yang Allah berikan dalam posisi terbaik itu, bisa juga berbalik 180 derajat karena ulah manusia, yang kemudian digambarkan oleh Alquran sebagai sehina-hinanya manusia. Bahkan, manusia akan terlempar ke dasar kerak neraka.
Tepatlah kiranya, dua potensi yang Allah gambarkan dalam Q.S. al-Syams yakni Allah mengilhamkan kejelekan dan ketakwaan. Pertanyaannya tinggal pilih yang mana? Maka, dalam hal ini keempat dimensi di atas yang akan membawa manusia kelembah ke-takwaan atau kejelekan.
* Penulis adalah Dosen tetap Fakultas Syari’ah IAIN Raden Intan, Lampung & Kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini tinggal di Pabean, Purwakarta, Cilegon, Banten.
Oleh: Hasani Ahmad Said*
*Tulisan ini pernah dimuat di Opini Koran Kabar Banten,Sabtu,9 Okt 2010
Manusia secara fisik tak ubahnya seperti belalang kecil yang hinggap di pohon-pohon. Tetapi dalam diri yang kecil itu terdapat arsy Tuhan, yang luasnya lebih luas dari bumi dan langit, demikian ungkapan Jalaludin Rumi.
Manusia pada hakikatnya terdiri atas dua dimensi. Dimensi jasmani dan ruhani. Dua dimensi itu selayaknya harus tersentuh proses pembelajaran dalam hidup manusia. Dimensi ruhani ada dan terdapat dalam qalbu, ruh, nafs, dan aqal yang pada gilirannya membawa ketentraman baik jiwa manusia di tengah kegelisahan kehidupan dunia modern sekarang, atau malah sebaliknya.
Baiklah coba satu persatu diuraikan dalam tulisan ini untuk menemukan eksistensi manusia sesungguhnya sebagai manusia yang diposiskan sesempurnanya ciptaan. Pertama Qalb yang bermakna membalik, kembali, maju-mundur, naik turun, berubah-ubah. Kata ini digunakan untuk menamai bagian dalam dari manusia yang menjadi sentral diri manusia itu sendiri, yang kita terjemahkan dengan hati.
Qalb yang suci bagaikan bola lampu kristal yang jernih dan tampak titik apinya, tempat bertemunya minyak dan api, dari luarnya diterangi oleh cahaya iman sedangkan di dalamnya diterangi cahaya ruh suci; sehingga terberkatilah dua rumah: rumah jiwa dan rumah jasad oleh cahaya-cahaya tersebut
Al-Ghazali (w. 505 H.), dari kalangan sufi, mencoba menjelaskan pengertian qalb dengan terlebih dahulu membuat kategori yakni qalb dalam pengertian fisik, yaitu segumpal daging sebagian organ tubuh yang terletak pada bagian kiri ronga dada, dan merupakan sentral peredaran darah; di mana darah itu yang membawa kepada kehidupan. Al-Ghazali mengatakan, hati dalam kategori ini adalah hati biologis yang menjadi obyek kajian para ahli kesehatan.
Kedua adalah ruh, kata ruh berasal dari akar kata r w h. Dalam hal ini, makna resmi kata tersebut yang berarti nyawa yang menggerakkan makhluk hidup, dapat dipahami secara intuitif sebagai udara yang menggerakkan jasad manusia. Karena udara tidak dapat dilihat, maka demikian pula ruh, yang hanya dapat dirasakan keberadaannya yang seperti angin itu.
Ruh mengantar pada ilahi, jasad membawa pada keduniawian. Ruhani adalah yang mengendalikan, memberikan visi dan nilai-nilai bimbingan kepada jiwa-jiwa nabati, hewani dan insani. Ruh kita sesungguhnya perwujudan arsy Tuhan. Jangkauannya lebih luas dari bumi.
Jadi, kalau kita mencintai dunia berarti kita memenjarakan ruh kita di sangkar yang kecil. Mana mungkin burung elang itu bisa bahagia di dalam sangkar yang kecil. Bebaskan ruh kita dari sangkar dunia.
Dalam kalangan sufi, ruh tidak mereka definisikan, tetapi mereka melihatnya dari sisi bahwa ruh adalah alat bagi manusia dalam berhubungan dengan Tuhan. Ruh iru erat hubungannya dengan jantung, di mana ia beredar bersama peredaran darah, sehingga kalau detak jantung sudah berhenti, maka berakhir pulalah ruh itu.
Akan tetapi, ruh yang menjadi sasaran tasawuf adalah ruh lathifah al-‘Alimah al-mudrikah min al-insan (sesuatu yang halus, yang mengetahui dan mempersepsi, yang terdapat dalam diri manusia), atau sama pengertiannya hati dalam kategori kedua di atas.
Ketiga, nafs, istilah nafs dalam al-Qur’an yang jama’nya anfus dan nufus diartikan jiwa (soul), pribadi (person), diri (self atau selves), hidup (life), hati (heart), atau pikiran (mind), di samping juga dipakai untuk beberapa arti lainnya.
Mengungkap tentang al-nafs tidak dapat dipisahkan dengan ruh; sejatinya keduanya harus didudukkan sapu paket. Ruh itu dari Allah (Qul al-ruhu min amri Rabbi), sedangkan Allah itu maha suci dan immateri. Maka ruh itupun bersifat immateri dan suci.
Nurcholis Madjid menjelaskan bahwa nafs atau nafsu, emosi, memiliki kecenderungan terhadap kejelekan. Namun demikian, emosi yang ada pada manusia ibarat pisau bermata dua, emosi dapat membawa bencana, tetapi juga mendorong manusia mencapai puncak keilmuan yang sangat tinggi.
Nafsu menempati bagian jantung manusia, sedang akal menempati otak manusia.
Al-Qur’an juga menyebut “Fakasauna al-idzama lahma” lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging (Q.S. Al Mu’minun [23]:14). Tatkala usia kandungan sembilan puluh hari proses pembentukan tubuh mulai berlangsung.
Maka nafs (jiwa), sebaiknya dipahami sebagai totalitas daya-daya ruhani berikut interaksinya dan aktualisasinya dalam kehidupan manusia. Quraish Shihab cenderung memahami nafs sebagai sesuatu yang merupakan hasil perpaduan jasmani dan ruhani manusia. Perpaduan yang kemudian menjadikan yang bersangkutan mengenal perasaan, emosi, dan pengetahuan serta dikenal dan dibedakan dengan manusia-manusia lainnya.
Keempat, ‘Aql yang berarti ikatan, batasan, atau menahan. Al-Ghazali meng-kategorikan akal atas dua pengertian. Pertama akal dikaitkan dengan pengetahuan tentang suatu realitas, kedua akal diartikan sama dengan kalbu. Jadi hati tak berbeda dengan akal. Meski demikian, kaum sufi menempatkan akal identik dengan dzawk (perasaan batin). Oleh karena itu, mereka berkeyakinan bahwa akal yang mampu mempersepsi sesuatu, sehingga menjadi sebuah konsep.
Dari uraian di atas, bisa dikatakan bahwa manusia tidak terlepas dari empat dimensi di atas. Kemudian, hati, ruh, nafsu, dan akal akan membawa kepada manusia yang sesungguhnya. Dalam artian bahwa dengan empat dimensi itu, manusia akan menjadi posisi/kedudukan yang terhormat, juga sebaliknya, bisa juga dalam posisi tersungkur atau hina.
Alquran menggambarkan mengenai penciptaan manusia sebaik-baik ciptaan (fî ahsani taqwîm). Akan tetapi posisi yang Allah berikan dalam posisi terbaik itu, bisa juga berbalik 180 derajat karena ulah manusia, yang kemudian digambarkan oleh Alquran sebagai sehina-hinanya manusia. Bahkan, manusia akan terlempar ke dasar kerak neraka.
Tepatlah kiranya, dua potensi yang Allah gambarkan dalam Q.S. al-Syams yakni Allah mengilhamkan kejelekan dan ketakwaan. Pertanyaannya tinggal pilih yang mana? Maka, dalam hal ini keempat dimensi di atas yang akan membawa manusia kelembah ke-takwaan atau kejelekan.
* Penulis adalah Dosen tetap Fakultas Syari’ah IAIN Raden Intan, Lampung & Kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini tinggal di Pabean, Purwakarta, Cilegon, Banten.
Masjid, Simbol Peradaban Islam
Masjid, Simbol Peradaban Islam
Oleh: Hasani Ahmad Said
Kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dosen Syariah, IAIN Bandar Lampung
*Tulisan ini dimuat di kolom Opini Lampung Post, Jum'at, 8 Oktober 2010
Menengok sejarah klasik Islam, masjid yang pertama kali dibangun adalah Masjid Nabawi pascahijrah. Dikisahkan, sesampainya rombongan Nabi saat hijrah dari Mekah menuju Madinah, setelah unta tunggangan Rasulullah saw. berhenti di suatu tempat di Madinah, maka kaum muslimin menjadikannya sebagai tempat untuk menunaikan salat.
Tempat itu merupakan tempat penjemuran kurma milik Suhail dan Sahl, dua anak yatim dari Bani Najjor, yang berada dalam pemeliharaan As’ad bin Zurarah.
Babak hijrah tersebut ditandai oleh sebuah gagasan untuk membangun masjid, yang kelak akan menjadi saksi bisu tentang gemerlapnya peradaban Islam. Masjid menjadi sebuah magnet bagi peradaban Islam saat itu dan di situlah Rasulullah mampu membangun sebuah episentrum sebuah peradaban.
Konsep masjid pusat peradaban tersebut menjadikan masjid lebih dari sekadar tempat sujud. Secara leksikologi, seperti akar kata masjid terambil dari kata Sajada-yasjudu-Sajdan yang kesemuanya mengandung arti bersujud, patuh, taat, serta tunduk penuh hormat dan takzim. Sedangkan untuk menunjukan suatu tempat kata Sajada menjadi kata masjidun (Isim makan) yang artinya tempat sujud menyembah Allah swt.
Allah berfirman: "Orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (At Taubah (9): 18)
Ayat ke-18 ini dapat dipahami dari dua sudut pandang yang berbeda tentang pelaku pemberdayaan masjid. Pertama, yang benar-benar memberdayakan masjid dalam arti memakmurkannya hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Kedua, jaminan Allah bagi para pelaku pemberdayaan masjid bahwa mereka adalah orang-orang yang akan senantiasa dijaga keimanannya oleh Allah.
Masjid Agung Banten, termasuk The oldest mosques in Indonesia 10 masjid tertua di Indonesia. Sepuluh masjid tua itu adalah Masjid Tua Palopo (1604), Masjid Al Hilal Katangka (1603), Masjid Mantingan (1559 AD), Masjid Agung Banten (1552-1570), Masjid Menara Kudus (1537), Masjid Sultan Suriansyah (1526), Masjid Agung Demak (1474), Masjid Ampel (1421), Masjid Wapauwe (1414), Masjid Saka Tunggal (1288).
Masjid Agung Banten didirikan oleh Sultan pertama Kasultanan Demak Maulana Hasanuddin ketika menjabat sebagai Sultan Banten pada 1552—1570. Ia adalah putra pertama Sunan Gunung Jati.
Melihat dari sisi ini, Banten tentunya memiliki nilai sejarah tersendiri dalam penyebaran agama Islam di Banten. Selain itu, Masjid Agung Banten merupakan salah satu peninggalan kebudayaan terbesar di antara manuskrip-manuskrip lain.
Masjid bagi sebagian kalangan masih menjadi masjid yang disakralkan. Terlihat misalnya pada tanggal 12 Maulud sudah menjadi tradisi selalu diadakan peringatan maulid (kelahiran) Nabi di Masjid Agung Banten. Saat inilah biasanya, jemaah membludah “ngalap” berkah. Masjid Agung Banten hingga kini masih berdiri kokoh, oleh karena itu tak heran Masjid Agung Banten memiliki nilai historis yang cukup tinggi, khususnya dalam proses penyebaran Islam di Tanah Banten. Di beberapa kota/kabupaten juga berdiri tegak Masjid Agung yang menjadi simbol peradaban sekaligus kebanggaan daerahnya.
Kalau berkaca pada zaman Rasulullah, seperti telah diungkapkan di atas, pada zaman Rasul di masjid tempat menyusun strategi perang dan pembangunan ekonomi umat. Maka, masjid pada zaman sekarang, sejatinya bukan hanya dijadikan tempat ibadah semata, melainkan tepatnya masjid sudah mempunyai peranan yang multifungsi atau yang dikenal sekarang sebagai pusat Islam (Islamic center/markaz al-islam) seperti tempat menuntut ilmu, pembinaan jemaah, pusat dakwah dan kebudayaan Islam, pusat pengaderan dan basis kebangkitan Islam.
Tidak terelakkan lagi, di mana ada pusat pendidikan, perkantoran, perbelanjaan, pembinaan ummat, di situ pula ada masjid megah yang menjadi payung dari semua aktivitas semua itu. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah pembinaan remaja masjid yang akan menjadi pilar pengganti para generasi tua yang didasari dan dilandasi dengan akidah dan akhlak yang kokoh.
Kalau semua sudah berangkat dari masjid, sebelum kerja melakukan salat duha dulu, saatnya menjelang azan zuhur atau asar segala aktivitas dihentikan untuk salat berjemaah, dan selalu menjaga silaturahmi melalui berjamaan. Maka, insya Allah negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur akan terlaksana. Semoga. n
Oleh: Hasani Ahmad Said
Kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dosen Syariah, IAIN Bandar Lampung
*Tulisan ini dimuat di kolom Opini Lampung Post, Jum'at, 8 Oktober 2010
Menengok sejarah klasik Islam, masjid yang pertama kali dibangun adalah Masjid Nabawi pascahijrah. Dikisahkan, sesampainya rombongan Nabi saat hijrah dari Mekah menuju Madinah, setelah unta tunggangan Rasulullah saw. berhenti di suatu tempat di Madinah, maka kaum muslimin menjadikannya sebagai tempat untuk menunaikan salat.
Tempat itu merupakan tempat penjemuran kurma milik Suhail dan Sahl, dua anak yatim dari Bani Najjor, yang berada dalam pemeliharaan As’ad bin Zurarah.
Babak hijrah tersebut ditandai oleh sebuah gagasan untuk membangun masjid, yang kelak akan menjadi saksi bisu tentang gemerlapnya peradaban Islam. Masjid menjadi sebuah magnet bagi peradaban Islam saat itu dan di situlah Rasulullah mampu membangun sebuah episentrum sebuah peradaban.
Konsep masjid pusat peradaban tersebut menjadikan masjid lebih dari sekadar tempat sujud. Secara leksikologi, seperti akar kata masjid terambil dari kata Sajada-yasjudu-Sajdan yang kesemuanya mengandung arti bersujud, patuh, taat, serta tunduk penuh hormat dan takzim. Sedangkan untuk menunjukan suatu tempat kata Sajada menjadi kata masjidun (Isim makan) yang artinya tempat sujud menyembah Allah swt.
Allah berfirman: "Orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (At Taubah (9): 18)
Ayat ke-18 ini dapat dipahami dari dua sudut pandang yang berbeda tentang pelaku pemberdayaan masjid. Pertama, yang benar-benar memberdayakan masjid dalam arti memakmurkannya hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Kedua, jaminan Allah bagi para pelaku pemberdayaan masjid bahwa mereka adalah orang-orang yang akan senantiasa dijaga keimanannya oleh Allah.
Masjid Agung Banten, termasuk The oldest mosques in Indonesia 10 masjid tertua di Indonesia. Sepuluh masjid tua itu adalah Masjid Tua Palopo (1604), Masjid Al Hilal Katangka (1603), Masjid Mantingan (1559 AD), Masjid Agung Banten (1552-1570), Masjid Menara Kudus (1537), Masjid Sultan Suriansyah (1526), Masjid Agung Demak (1474), Masjid Ampel (1421), Masjid Wapauwe (1414), Masjid Saka Tunggal (1288).
Masjid Agung Banten didirikan oleh Sultan pertama Kasultanan Demak Maulana Hasanuddin ketika menjabat sebagai Sultan Banten pada 1552—1570. Ia adalah putra pertama Sunan Gunung Jati.
Melihat dari sisi ini, Banten tentunya memiliki nilai sejarah tersendiri dalam penyebaran agama Islam di Banten. Selain itu, Masjid Agung Banten merupakan salah satu peninggalan kebudayaan terbesar di antara manuskrip-manuskrip lain.
Masjid bagi sebagian kalangan masih menjadi masjid yang disakralkan. Terlihat misalnya pada tanggal 12 Maulud sudah menjadi tradisi selalu diadakan peringatan maulid (kelahiran) Nabi di Masjid Agung Banten. Saat inilah biasanya, jemaah membludah “ngalap” berkah. Masjid Agung Banten hingga kini masih berdiri kokoh, oleh karena itu tak heran Masjid Agung Banten memiliki nilai historis yang cukup tinggi, khususnya dalam proses penyebaran Islam di Tanah Banten. Di beberapa kota/kabupaten juga berdiri tegak Masjid Agung yang menjadi simbol peradaban sekaligus kebanggaan daerahnya.
Kalau berkaca pada zaman Rasulullah, seperti telah diungkapkan di atas, pada zaman Rasul di masjid tempat menyusun strategi perang dan pembangunan ekonomi umat. Maka, masjid pada zaman sekarang, sejatinya bukan hanya dijadikan tempat ibadah semata, melainkan tepatnya masjid sudah mempunyai peranan yang multifungsi atau yang dikenal sekarang sebagai pusat Islam (Islamic center/markaz al-islam) seperti tempat menuntut ilmu, pembinaan jemaah, pusat dakwah dan kebudayaan Islam, pusat pengaderan dan basis kebangkitan Islam.
Tidak terelakkan lagi, di mana ada pusat pendidikan, perkantoran, perbelanjaan, pembinaan ummat, di situ pula ada masjid megah yang menjadi payung dari semua aktivitas semua itu. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah pembinaan remaja masjid yang akan menjadi pilar pengganti para generasi tua yang didasari dan dilandasi dengan akidah dan akhlak yang kokoh.
Kalau semua sudah berangkat dari masjid, sebelum kerja melakukan salat duha dulu, saatnya menjelang azan zuhur atau asar segala aktivitas dihentikan untuk salat berjemaah, dan selalu menjaga silaturahmi melalui berjamaan. Maka, insya Allah negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur akan terlaksana. Semoga. n
Langganan:
Postingan (Atom)