Jumat, 26 Februari 2010

WUJUDKAN CINTAMU KEPADA RASUL DENGAN MEMBACA KARYA INI DAPATKAN SEGERAAA

WUJUDKAN CINTAMU KEPADA RASUL DENGAN MEMBACA KARYA INI
DAPATKAN SEGERAAA

Puisi adalah bentuk kesusastraan yang paling tua. Karya besar dunia yang bersifat monumental ditulis dalam bentuk puisi. Karya-karya pujangga banyak ditulis dalam bentuk puisi. Nyanyian-nyanyian yang diperdengarkan tidak semata-mata karena irama mempesona yang dilantunkan dengan suara merdu, tetapi isi kandungan dan corak puisinya mampu menghibur manusia. Puisi-puisi cinta banyak didendangkan dan diperdengarkan para penyanyi dan pujangga dalam berbagai kurun waktu. Hebatnya, puisi-puisi semacam itu tidak pernah pudar dan membosankan.
Puisi atau syair merupakan karya sastra yang sangat urgen dan besar pengaruhnya terhadap sikap, tindak, dan kehidupan manusia. Allah SWT menaruh perhatian khusus dengan mencantuman dalam al-Qur’an satu surat yang ke-26 dengan nama al-Syu’ara> (اَلشُّعَرَاء). Disebut demikian karena Allah menyanggah orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah penyair dan yang dibawanya adalah syair. Muh}ammad Ali> al-S{a>bu>ny mengatakan :
سُمِّيَت سُوْرَةُ الشُّعَرَاء ِلأَنَّ اللهَ تَعَالَى ذَكَرَ فِيْهَا أَخْبَارَ الشُّعَرَاء رَدًّا عَلَى المُشْرِكِيْنَ فَزَعْمُهُم أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ كَانَ شَاعِرًا وَ أَنَّ مَا جَاءَ بِهِ إِنَّمَا هُوَ مِنْ قَبِيْلِ الشِّعْرِ، فَرَدَّ اللهُ عَلَيْهِمْ هَذَا الكَذِبَ وَ البُهْتَانَ بِقَوْلِهِ" وَ الشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الغَاوُوْنَ، أَلمَ تَرَ أَنَّهُمْ فِى كُلٍّ وَادٍ يَهِيمُون. وَ أَنَّهُم يَقُوْلُوْنَ مَا لاَ يَفْعَلُوْنَ"
Dinamai surat al-Syu‘ara> karena Allah menyebut di dalamnya berita tentang para penyair sekaligus menyanggah tuduhan orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah penyair dan yang dibawanya adalah syair. Maka Allah pun menyanggah kebohongan dan kepalsuan itu dengan ayat yang artinya “Dan penyair-penyair itu, diikuti oleh orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di lembah-lembah. Dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)”?
Sanggahan Allah terhadap tuduhan orang-orang musyrik Arab pada waktu itu tergambar dalam ayat sebagai berikut:
وَ الشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الغَاوُوْنَ، أَلمَ تَرَ أَنَّهُمْ فِى كُلٍّ وَادٍ يَهَيمُون. وَ أَنَّهُم يَقُوْلُوْنَ مَا لاَ يَفْعَلُوْنَ (الشعراء 224-226)
Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di lembah-lembah. Dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?
Penamaan surat ini ditandai dengan disebutnya kata-kata اَلشُُّعَرَاءُ pada bagian akhir surat, tepatnya ayat 224, ketika Allah secara khusus menyebutkan kedudukan para penyair. Para penyair pada zaman itu [Jahiliyah] mempunyai sifat-sifat yang jauh berbeda dengan rasul. Mereka diikuti oleh orang-orang yang sesat dan suka memutarbalikkan lidah, tidak mempunyai pendirian. Perbuatan mereka tidak sesuai dengan ucapan. Sifat-sifat yang demikian itu tidak terdapat pada diri rasul. Oleh karena itu, tidak patut bila Nabi Muhammad saw dianggap sebagai penyair dan al-Qur’an ditengarai sebagai syair. Al-Qur’an adalah wahyu Allah, bukan buatan manusia. Al-Qur’an bukan syair dan bukan pula prosa. Gaya bahasa dan sastra al-Qur’an berbeda dengan gaya bahasa biasa. Gaya bahasa dan gaya sastra al-Qur’an adalah gaya bahasa dan gaya sastra al-Qur’an itu sendiri.
Pernyataan Allah bahwa Nabi Muhammad saw bukan penyair dan bahwa al-Qur’an merupakan peringatan dan kitab pemberi penerangan, ditegaskan dalam ayat yang berbunyi :
وَ مَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَ مَا يَنْبَغِى لَهُ، إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرٌ وَ قُرْآنٌ مُبِيْنٌ ( يس29)
Dan kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidak layak baginya, al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.
Yang dimaksud dengan penyair yang gemar memutar balikkan lidah, tidak mempuyai pendirian, dan perbuatannya tidak sesuai dengan ucapan adalah penyair Jahiliyah, bukan penyair Muslim. Penyair Muslim tidak demikian, hal ini dijelaskan dalam ayat berikut :
إلاَّ الذِيْنَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَ ذَكَرُوا اللهَ كَثِيرًا وَ انْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا (الشعراء 227)
Kecuali orang-orang [penyair-penyair] yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman.
Berdasarkan ayat di atas jelas bahwa penyair Muslim tidak melakukan apa yang dilakukan penyair Jahiliyah (non Muslim). Bagi orang Arab, syair mempunyai kedudukan yang tinggi dan peranan yang besar. Ah{mad al-Iskandary dan Mus}t}afa> Ina>ny mengatakan bahwa syair adalahدِيوَانُ العَرَب [buku catatan bangsa Arab]. Artinya bahwa semua aspek kehidupan yang berkembang pada masa tertentu, tercatat dan terrekam dalam syair-syair Arab. Dengan syair, orang-orang Arab dapat memelihara, mencatat, menjaga kehidupan, dan mempertahankan kehormatan. Satu kabilah Arab tidak akan mendapat kehormatan bahkan akan mendapatkan cemoohan, manakala tidak seorangpun di kalangan mereka yang tampil sebagai penyair yang dapat mewakili kabilahnya. Syair dan penyair bagi orang Arab merupakan kebanggaan. Ah}mad al-Iskandary dan Mus}t}afa> Ina>ny mengatakan bahwa kabilah Arab akan merasa sangat bahagia manakala mendapatkan tiga macam kelahiran. Kelahiran seorang anak laki-laki, kelahiran (penobatan) penyair, dan kelahiran anak kuda.
Ketika seorang penyair muncul (dinobatkan sebagai penyair), mereka mengadakan pesta besar-besaran untuk menyambutnya. Pesta itu mereka lakukan melebihi pesta perkawinan. Mereka menari, menyanyi, dan menyantap macam-macam hidangan mewah. Ah}mad al-Iskandary dan Mustafa> Ina>ny mengatakan :

وَ كَانَت القَبَائِلُ مِن العَرَبِ إِذَا نَبَغَ فِيهَا شَاعِرٌ أتَتِ القَبَائِلُ فَهَنَّأَتْهَا وَ صَنَعَتِ الأَطْعِمَةَ وَ أَتَتِ النِّسَاءُ يَلْعَبْنَ بِالمَزَامِرِ كَمَا صَنَعْنَ بِالأَعْرَاسِ ، وَ يَتَبَاشَرْنَ الرِّجَالَ وَ الوِلْدَانَ ، لأَنَّهُ حِمَايَةٌ ِِلأَعْرَاضَهِمْ ، وَ ذَبّ عَنْ حِيَاضِهِمْ ، و تَخلِيْدٌ لِمُفْتَخَرِهِمْ ، وَ إِشَادَةٌ بِذِكْرِهِمْ ، وَ كَانُوا َلا يَهْنَئُوْنَ إِلاَّ بِغُلامٍ يُوْلَدُ أَوْ شَاعِرٌ يَنْبَغُ أَوْ فَرَسٌ تُنْتَجُ.
Manakala di kalangan kabilah Arab muncul seorang penyair, berdatanganlah kabilah-kabilah lain mengucapkan selamat. Mereka membuat bermacam makanan mewah dan berdatangan pula wanita-wanita (penyanyi) untuk memainkan seruling (alat musik tiup). lni mereka lakukan sebagaimana mereka merayakan pesta perkawinan. Laki-laki, perempuan, muda-mudi berbaur menjadi satu untuk merayakannya. Kelahiran seorang penyair merupakan kehormatan bagi mereka. Seorang penyair adalah pahlawan keluarga dan pembela bangsa. Mereka akan sangat bangga dan bahagia manakala di kalangan mereka lahir seorang anak laki-laki, lahir seorang penyair, dan lahir seekor anak kuda.
Rasulullah saw adalah sosok manusia yang mencintai seni dan menggemari syair. Beliau mendorong sahabatnya untuk menyusun dan melantunkan syair. Beliau bangga kalau syair dijadikan alat berdakwah dan sarana untuk membukukan ajaran Islam. Beliau mendorong para sahabatnya untuk menjadikan syair sebagai senjata ampuh melawan musuh Islam. Hal ini dilakukan agar umat Islam mendapatkan motivasi dan semangat tinggi dalam menjalankan tugas sucinya, berjihad. Beliau pernah berkata kepada sahabatnya Hassa>n ibn S|a>bit. (w 54 H) agar ia membalas celaan orang-orang musyrik, musuh Islam, dengan lidahnya [syairnya] beliau bersabda :
اُهْجُ المُشْرِكِيْنَ وَ جِبْرَائِيْلُ مَعَكَ، إِذَا حَارَبَ أَصْحَابِي بِالسِّلاَحِ فَحَارِبْ أَنْتَ بِاللِّسَانِ (رواه الخطيب وابن عساكر)
Balaslah (wahai H{assa>n) celaan orang-orang musyrik itu, Jibril pasti bersamamu. Kalau sahabat-sahabatku berperang dengan senjata, maka berperanglah kamu dengan lidahmu (syairmu). (HR Al-Khati>b dan Ibn Asa>kir).
Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa Rasulullah saw pernah bertanya kepada para sahabat, “Siapa di antara kalian yang akan membela Islam dan kehormatan orang-orang yang beriman?” Ka‘ab ibn Zuhair menjawab “Aku wahai Rasulullah yang akan membelanya”, Jawab Nabi; “Ya Engkau adalah seorang penyair”. Dalam hal ini Hassa>n ibn S|a>bit berkata, “Aku wahai Rasulullah yang akan membelanya”, Nabi pun menjawab Hassa>n ibn S|a>bit “Ya, balaslah ejekan kaum musyrik itu semoga Jibril menyertaimu”.
Syair-syair Arab klasik (syair Jahili) banyak digunakan untuk tujuan gazal (الغَزل = cinta), risā (الرِثَاء = ratapan), hija> (الِهجَاء = ejekan), madh} (اَلمدْح = pujian), mufākharah (المُفَاخَرَة = kebanggaan), h}ikmah (الحِكْمَةِ = kata mutiara), mas|al (المَثَل= peribahasa) ‘itiz|a>r (الاِعْتِذَار = berdalih / permobonan maaf), dan lain-lain.
Setelah Islam datang, syair-syair Arab banyak digunakan untuk tujuan keagamaan, seperti sarana dakwah, penyebaran aqidah Islamiyah, sebagai alat kodifikasi ajaran dan ilmu agama Islam, untuk membangkitkan motivasi umat Islam dan untuk beramal saleh, menyampaikan mauizah h}asanah, dan memuji Rasulullah saw.
Syair madh} (شِعرُالَمدحِ) dalam bahasa Indonesia disebut syair pujian, merupakan bentuk syair yang banyak mendapat perhatian para penyair. Syair ini di samping untuk mengungkapkan rasa senang dan cinta terhadap orang yang pernah berjasa atau yang sangat dihormati, merupakan sarana untuk mencari kehidupan (tujuan komersil). Tidak sedikit di antara para penyair yang sengaja menggubah syair madhnya untuk mengharapkan imbalan. Di zaman khilafah Dinasti Umayyah (661-750 M) dan Abbasiyah (132-656 H/750-1258 M), tidak sedikit di antara penyair yang mampu mengambil hati para khalifah sehingga mereka tidak segan-segan memberikan sejumlah imbalan berupa uang, emas, dan benda berharga lainnya. Bahkan di antara mereka ada yang menerima hadiah berupa ja>riyah (جََاِريَة = gadis). Dengan syair madh{, para penyair banyak yang menjadi kaya, dan bahkan menjadi pejabat tinggi kerajaan setingkat menteri.
Syair madh} merupakan ungkapan rasa cinta seseorang terhadap siapa saja yang disenangi dan dicintainya. Syair-syair Rabiah al-Adawiyah (135 H/752 M) merupakan model syair madh} yang mengungkap rasa cintanya kepada Allah yang begitu mendalam. Rasa cintanya kepada Allah diungkapkan melalui syair-syair madh}-nya yang begitu lembut, indah, dan menarik. Ia mengungkapkan betapa mendalam cintanya kepada Allah, ia berkata:
أُحِبُّك حُبَّينِ حُبَّ الهَـوَى وَ حُبًّـا ِلأَنـَّكَ أَهْلٌ لِذَاكَ
فَأَمَّا الّذِى هُوَ حُبُّ الهَوَى فَشُغْلِى بِذِكْرِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
وَ أَمَا الَّذِى أَ نْتَ أَ هْلٌ لَهُ فَكَشْفُكَ لِى الحَجْبَ حَتَّى أَرَاكَ
فَلاَ الحَمْدُ فِى ذَا أَوْ ذَاكَ لِي وَ لَكِنْ لَكَ الحَمْدُ ذَا وَ ذَاكَ
Ku cintai Kau dengan dua macam cinta
Cinta yang murni dan cinta karena Engkaulah yang patut dicintai
Mengenai cinta murni ialah karena aku senantiasa mengingat-Mu
Dan tak ada yang kuingat selain-Mu
Adapun cinta karena Engkau yang patut dicintai….
Karena Engkau telah mengungkapkan tabir bagiku hingga Engkau dapat kulihat
Baik untuk ini, maupun untuk itu pujian bukanlah bagiku
Tapi hanya Eugkaulah yang berhak atas pujian itu
Pujian Rabiah al-Adawiyah yang diungkapkan melalui cintanya kepada Allah bukan untuk mendapatkan harta benda sebagaimana penyair-penyair lain. Ia memuji-Nya karena harapan agar ia senantiasa berada di sisi-Nya. Berada di sisi Allah merupakan tujuan utama para sufi. Syair-syair madh} Rabiah berupa h}ubb ila>hy (cinta Tuhan) yang bercorak sufi. Syair-syair madh} dapat menghilangkan rasa dendam atau benci dan menghibur hati yang sedih. Syair-syair madh} juga dapat menenangkan pikiran yang kusut dan menghibur hati yang kalut. Rasulullah saw pernah mengampuni seseorang yang telah diancam hukuman mati. Ini beliau lakukan karena penyair itu telah melewati batas mencela Islam dan mengejek Rasulullah saw. Ia adalah Ka’ab ibn Zuhair (w. 26 H/645 M).
Ketika Islam datang, Bujer (saudara kandung Ka’ab) masuk Islam. Mendengar berita ini, Ka’ab melarangnya masuk Islam dan bahkan mengejek Rasulullah saw serta mencela Islam. Mendengar perilaku dan tindakan Ka’ab, Rasulullah saw mengancam dengan menghalalkan darahnya. Lalu Ka’ab diperingatkan saudaranya, Bujer, akan adanya ancaman Rasulullah saw, kecuali ia menghadap beliau untuk masuk Islam dan bertaubat. Hal ini sangat menakutkan Ka’ab. Ia berusaha mencari orang yang dapat melindunginya. Akan tetapi usahanya itu sia-sia. Tidak seorangpun di kalangan orang Arab pada waktu itu yang mau mendampingi dan melindunginya. Bahkan sempat tersebar isu bahwa ia telah terbunuh. Karena sangat ketakutan, ia akhirnya datang kepada Abu Bakar al-Shiddiq agar beliau berkenan mendampinginya menghadap Rasulullah saw untuk bertaubat dan masuk Islam. Dengan didampingi Abu Bakar al-Shiddiq dan disaksikan para sababat lainnya Ka’ab ibn Zuhair meminta maaf kepada Rasulullah saw dan bertaubat lalu ia pun masuk Islam. Permohonan maaf yang disampaikannya kepada Rasulullah saw tertuang dalam kasidah yang dibacakan dihadapan beliau, antara lain berbunyi:
أُبْـئِتُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ أَوْعَدَنِى وَ العَفْوُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ مَأْمُوْلٌ
مَهْلاً هَدَاكَ الَذِى أَعْطَاكَ نَافِلَةَ الْـ قُرْآنِ فِيْهَا مَوَاعِيْظُ وَ تَفْصِيْلُ
Ku dengar selembar kabar
Rasulullah telah mengancam
Maaf untukku darinya
Sangat kuharapkan
Tenanglah tenang
Allah telah memberimu petunjuk
Berupa Nafilah Kitab al-Qur’an
Mengandung nasihat petunjuk rinci
Rasulullah saw sangat tertarik oleh kasidah yang dipersembahkannya ini. Seketika, beliau bangkit lalu memberinya hadiah berupa burdah بُرْدَة (semacam baju jubah yang dapat dipakai sebagai selimut). Karena peristiwa ini, kasidah tersebut diberi nama kasidah Burdah, sebagai tanda penghormatan dan kenangan atas hadiah Rasulullah saw kepadanya. Nama lain kasidah ini adalah بَانَتْ سُعَادُ. Sebuah nama yang diambil dari kata awal bait pertama kasidah tersebut yang berbunyi:
بَانَتْ سُعَادُ فَقَلْبِى اليَوْمَ مَتْبُوْلٌ مُتَيّمٌ إثْرَهَا لمَ ْيُفْدَ مَكْبُوْلُ
Kekasihku Su’ad telah pergi
Risau dan sakit hatiku kini
Sakit yang tak dapat terobati
Terbelenggu rasanya hatiku ini
Kasidah lain yang berjudul Burdah adalah karya penyair yang hidup di akhir masa Dinasti Ayyu>biyah dan awal Dinasti Mama>li>k yang berkuasa selama 266 tahun [648-922 H/ 1250-1517 M]. Penyair tersebut bernama Syarafuddi>n Abu> Abdilla>h Muh}ammad ibn Sa’i>d al-Bu>si>ry, lahir di Dalla>s pada 608 H dan hidup hingga dewasa di daerah Bu>si>r. Karena hidup di Bu>si>r inilah kemudian ia dikenal dengan nama al-Bu>si>ry, dinisbatkan kepada daerah Bu>si>r. Kasidah Burdah yang satu ini merupakan karya sastra yang sangat populer, selalu dibaca dan dikumandangkan di mana-mana, dan mendapat perhatian para pengkaji sastra Arab dan seniman. Kasidah ini banyak diterjemahkan, disadur, dan dikaji orang. Ibra>hi>m al-Ba>ju>ry mengatakan bahwa kasidah Burdah telah disyarah dalam bahasa Arab oleh tujuh belas ulama antara lain :
1. Syaikh Ali> ibn Muh}ammad al-Bust}a>my
2. Badruddi>n Muh}ammad ibn Muh}ammad al-Ghazzy
3. Muh}yiddi>n Muhammad Musta>
4. Bah}r ibn Rai>s ibn al-Hārūn al-Ma>liky
5. Abdulla>h ibn Ya’qu>b al-Ghifa>ry
6. Abdulla>h ibn Ya’qu>b al-Sha>wy
7. Dan lain-lain
Sedangkan di Indonesia terdapat empat buah karya para ulama yang menulis Burdah, baik berupa saduran, terjemahan, maupun pengantar, mereka adalah :
1. KH. Dr. Idham Chalid, dengan judul Burdah al-Madi>h} al-Muba>rakah
2. Abu Farid ibn Umar, dengan judul Burdah Nan Indah
3. Dr. Talhah Mansur, SH, berjudul Al-Burdah, Al-Kawa>kib al-Durriyyah fi> Madh} Khairil Bariyyah
4. Ahmad Makky, berjudul Penjelasan Kasidah Burdah
Ah}mad Syauqy Bek, penyair kontemporer Mesir menyusun kasidah dengan corak yang sama atau mirip dengan kasidah Burdah. Ini ia lakukan karena keterpengaruhannya oleh kasidah Burdah. Kasidah yang ia susun berjudul Nahjul Burdah (نَهْجُ البرْدَةِ). Nahjul Burdah mengandung arti bahwa kasidah ini bercorak/bermetode Burdah. Di Indonesia kasidah Burdah senantiasa dibaca dan dikumandangkan, baik di pesantren, masjid, majelis taklim, madrasah, maupun rumah-rumah penduduk. Di pesantren dan majelis taklim, kasidah Burdah dijadikan literatur pokok.
Secara inklusif, kasidah Burdah menyatu dengan kitab Barzanjy (tentang maulid Nabi Muhammad saw). Perayaan peringatan maulid Nabi Muhammad saw dirasa kurang sempurna manakala tidak dibaca atau tidak didendangkannya kasidah Burdah. Selamatan bayi yang baru lahir dirayakan dengan pembacaan kitab Barzanjy yang senantiasa dilengkapi dengan kasidah Burdah.
Di Jawa Timur dan daerah-daerah lainnya di Indonesia, kasidah Burdah merupakan literatur pokok para kiai, ustadz, dan santri. Dapat dipastikan, bahwa sebagian besar keluarga Muslim memiliki kitab Barjanzy yang secara inklusif mengandung kasidah Burdah. Kitab Barzanjy dengan kasidah Burdahnya mereka miliki sebagaimana mereka memiliki kitab suci al-Qur’an. Banyak di antara seniman Muslim yang menjadikan kasidah Burdah sebagai lirik-lirik lagu Arab, seperti kasidahan, orkes gambus, dan lain-lain. Syaikh Ali> al-Minyawy, penyair Mesir, menerbitkan kaset lagu berirama Timur Tengah dengan lirik-liriknya diambil dari kasidah Burdah. Di awal ataupun akhir pengajian majelis taklim, kasidah Burdah dibacakan bersama-sama di bawah bimbingan guru/ ustadz. Kasidah Burdah juga menjadi bacaan [wiridan] sehari-hari.
Sebagai karya sastra kasidah Burdah pernah ditampilkan dalam festival antar pesantren se-Jawa Timur. Acara ini diselenggarakan Yayasan Hibatullah pimpinan Sofyan bekerjasama dengan harian pagi Memorandum, Surabaya. Menurut informasi, festival tersebut cukup berhasil dan mendapat perhatian besar dari para pencinta seni bercorak Islam.
Kasidah Burdah disusun al-Bu>si>ry, dengan tujuan memuji dan menyanjung Rasulullah saw. Ini ia lakukan karena kecintaannya kepada beliau (ِحُبُّ الرَسُوْل ) yang sangat mendalam melebihi cintanya kepada siapapun. Kasidah ini disusun ketika ia menderita sakit yang sangat berat (sebelah tubuhnya lumpuh). Dalam keadaan sakit ia menyusun kasidah yang isinya memuji dan menyanjung Rasulullah saw. Di suatu malam, dalam tidurnya ia mimpi bertemu beliau. Dalam mimpinya ini, beliau memberinya Burdah (بُرْدَة), baju lapang yang bisa dijadikan selimut. Ketika terbangun, ternyata sakit yang selama itu ia alami hilang dan ia pun sehat walafiat seperti semula. Untuk mengenang hadiah dari Rasulullah saw, ia memberi judul kasidah yang disusunnya itu dengan nama Burdah (بُرْدَةْ) Kasidah Burdah karya al-Bu>-si>ry merupakan karya sastra yang begitu baik, indah, dan mendapat perhatian masyarakat.
Pengaruh kasidah Burdah di Indonesia merupakan wujud nyata adanya pengaruh sastra atau pun syair-syair Arab terhadap sastra dan puisi Indonesia. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa sastra dan bahasa Arab sangat besar peranannya dalam membesarkan dan mengembangkan sastra dan bahasa Indonesia. Pengaruh sastra dan bahasa Arab seperti ini tidak lepas dari pengaruh agama Islam yang secara inklusif bahasa Arab adalah bahasa agama Islam. Tanpa Islam, sastra dan bahasa Arab tidak akan ada dan tidak akan berkembang pengaruhnya dalam bahasa Indonesia. Pengaruh sastra Arab terhadap sastra Indonesia mencakup struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik sastra adalah bahasa. Sedangkan struktur batin sastra adalah isi atau pesan sastra. Sebagai contoh, perhatikan puisi berikut ini:
Sealir Do’a
Ya Rabbi
Betapa hina diri ini
Di depan keagungan-Mu
Betapa papa jasad ini
di depan kunci gudang kekayaan-Mu
Dan betapa kotor hati ini
di depan kesucian-Mu

Ya Rabbi
Tlah lama kusadari
Akan tebalnya lapisan dosa
noda dan aibku ini
Dan tlah jauh hati kuyakini
Luasnya hamparan permadani kedustaan
keangkuhan dan keteledoranku
Karenanya aku malu menghadap-Mu
Namun di hati masih tersisa
Keyakinan hati yang terpatri
Akan maha luas dan dalamnya
Samudra kasih
dan anggapan-Mu, Ya Rabbi
yang tidak bertepi
apa lagi berdasar pasir

Ya Rabbi
Biarkanlah dosa kebusukanku
terbawa hanyut
gelombang samudra kasih dan ampunan-Mu
(Nusar Azhar)
Dilihat dari segi struktur fisik (bahasa), puisi Nusar Azhar dengan juduI Sealir Do’a ini sangat nampak keterpengaruhannya oleh sastra/bahasa Arab. Kita lihat kata Rabbi dalam puisi tersebut terucap sampai empat kali dan kata yakin (keyakinan, kuyakini) terucap dua kali dan kata aib (aibku) terucap satu kali. Dilihat dari struktur batin (isi/pesan sastra) puisi Nusar Azhar ini terpengaruh sastra Arab/Islam. Isi/pesan sastra dalam puisi tersebut berupa keagamaan/keislaman.
Buku ini akan menjawab beberapa pertanyaan berikut:
Siapakah al-Bu>s}i>ry? Apa saja karya-karyanya? Apa itu kasidah Burdah dan bagaimana latar belakang penyusunannya ? Mengapa syair-syair kasidah Burdah memfokuskan pujian kepada Rasulullah saw? Apa yang menyebabkannya menjadi terkenal? Mengapa dikeramatkan orang? Corak sastra apa yang mewarnainya? Apa isi kandungan, ide, dan pesannya? Bagaimana pengaruhnya terhadap perkembangan sastra/syair Arab pada umumnya dan bagaimana perhatian masyarakat pada khususnya?
Permasalahan pokok buku ini adalah corak sastra apakah yang mewarnai kasidah Burdah al-Bu>s}i>ry sehingga menjadi terkenal? Ini akan menjawab beberapa pertanyaan kita;
a. Apa yang melatarbelakangi penyusunan kasidah Burdah?
b. Sejauh mana imajinasi dan emosi yang terkandung di dalamnya?
c. Apa dan bagaimana ide/pesan serta pikiran yang terkandung di dalamnya?
d. Bagaimana struktur fisik (الصُوْرَة) yang meliputi stilistika (الأُسْلُوْب), kata-kata (الأَلْفَاظ), aliran (المَذْهَب), keseimbangan pola nada/irama (الوَزْن) dan sajak (القَافِيَة),
e. Sejauh mana pengaruhnya terhadap perkembangan sastra, dan respons kaum Muslim terhadapnya.
Buku ini dimaksudkan untuk mengetahui dan mengkaji Islam (bidang bahasa dan sastra Arab) dengan mengungkap corak sastra kasidah Burdah karya al-Būsi>ry. Bentuk struktur fisik dan batin kasidah Burdah dianggap sakral dan mempunyai khasiat-khasiat tertentu. Adapun manfaatnya antara lain :
1. Pelestarian kebudayaan dan apresiasi seni
2. Pembinaan perkembangan ilmu dan teori sastra
3. Pembinaan dan pengembangan sastra sebagai media penyiaran agama Islam dan alat kodifikasi ajaran Islam.
Syair merupakan karya sastra yang identik dengan kehidupan keagamaan yang selalu berkembang sejak munculnya agama Islam. Kasidah Burdah berisi syair-syair sanjungan dan pujian kepada Rasulullah saw, maka dijuluki sebagai pemuji nabi dan penyanjung Rasulullah saw.
Kecintaan al-Bu>s}i>ry kepada Rasulullah saw melebihi cintanya kepada orang lain, sekalipun ia tidak pernah bertemu dengannya. Ia hidup jauh setelah Rasulullah saw tiada. Cintanya kepada beliau lebih disebabkan oleh iman dan ketaatannya kepada Islam. Al-Bu>si>ry hanya menyusun syair yang berkenaan dengan keagamaan, pujaan, dan pujian kepada Rasulullah saw. Ini terlihat dalam karya-karya syairnya yang terhimpun dalam di>wa>n-nya. Buku ini akan mengulas kasidah Burdah yang merupakan karya sastra/syair puisi lirik. Dalam istilah sastra Arab disebutاَلشِعْرُ الغِنَائِي yaitu syair yang dapat dijadikan sebagai larik-larik dan lirik-lirik lagu atau dapat dideklamasikan seperti puisi. Dari segi struktur fisik (stilistika), kasidah Burdah yang berbentuk puisi ini menggunakan bah}r basi>t} (البَحْرُالبَسِيْط). Basi>t} adalah nada dasar yang cocok untuk syair-syair pujian (شِعْرُالمَدْح) syair cinta (شِعْرُالغَزل) dan syair ratap (شُِْعْرُ الرِثَاء ).
Dari segi sajak, kasidah Burdah menggunakan sajak mim (القَافِيَةالمِيْمِيَّة) yaitu huruf-huruf akhir (الرَوِِي) yang terdapat pada setiap baitnya adalah huruf mim. Sementara isi kandungan kasidah Burdah (struktur batin) berupa keislaman yaitu pujian kepada Rasulullah saw yang meliputi :
1. Nostalgia penyair
2. Peringatan terhadap bahaya hawa nafsu
3. Pujian kepada Rasulullah saw
4. Maulid Nabi Muhammad saw
5. Mukjizat Nabi Muhammad saw
6. Keagungan kitab suci al-Qur’an
7. Isra dan mi’raj
8. Perjuangan Nabi Muhammad saw
9. Permohonan maaf kepada Rasulullah saw
10.Sebuah harapan
Di antara bait-bait syair kasidah Burdah yang populer di masyarakat Indonesia adalah:
34 - مُحَمَّدٌ سَيِّدُ الكَوْ نَيْنِ وَالثَّقَلَـ يْنِ وَالفَرِيقَيْنِ مِنْ عُرْبٍ وَمِن عَجَمِ
35- نَبِيُّنَا الآمِرُ النَّاهِى فَلاَ أَحَـدٌ أَبَرُّ فِى قَولِ لاَ مِنهُ وَ لاَ نَعَم
36 - هُوَ الحَبِيبُ الَذِى تُرجَى شَفَاعَتُهُ لِكُلِّ هَولٍٍٍ مِنَ الأَهوَالِ مُقتَحِمِ
37 - دَعَا إِلَى اللهِ فَالمُسْتَمْسِكُونَ بِهِ مُسْتَمْسِكُونَ بِحَبْلٍ غَيْرَ مُنفَصِمِ
Muhammad pemimpin dunia dan akhirat
Muhammad pemimpin jin dan manusia
Muhammad pemimpin dua bangsa
Bangsa Arab dan bangsa Ajam
Muhammad Nabi kita ... merintah ‘kan kebaikan
Muhammad Nabi kita ... melarang ’kan kejahatan
Tiada orang yang paling bijak
Ketika berkata..ya..ataupun.. tidak.
Muhammad kekasih Allah
Syafaatnya selalu diharapkan
Di hari yang sangat mencekam
Hari kiamat hari yang menakutkan
Ia ajak orang-orang ‘tuk kembaadali kepada Allah
Maka, barang siapa berpegang kepada-Nya
Berarti ia ia berpegang pada seutas tali
Yang selamanya tak ‘kan terputus
Kasidah Burdah mengandung 160 bait syair yang diawali dengan pernyataan cinta penyairnya. Cinta kepada kekasihnya yang tinggal di lembah Z|i> Salam dekat kota Mekah. Kecintaannya yang begitu mendalam menjadikannya selalu ingat kepadanya. Sang kekasih yang senantiasa ia rindukan dalam kasidah ini menurut sebagian para pakar adalah Nabi Muhammad saw, ia mengungkapkan :
1- أَ مِنْ تَذَكُّرِجِيرَانٍ بِِذِي سَـلَمٍٍٍٍٍ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقلَةٍ بِدَمِ
2-أَم هَبَّتِ الرِّيحُ مِن تِلقَاءِ كَاظِمَةٍ وَأَوْمَضَ البَرْقُ فِى الظَلمَاءِ مِنْ إِضَمِ
Apakah karena mengenang kekasih
Yang tinggal di lembah Z|i-Salam
Kau campurkan airmatamu dengan darah
Mengalir dari kelopak matamu?
Ataukah karena angin menghembus
Dari arah gunung Ka>zimah?
Ataukah karena kilat menyambar dari Idami?
Di kegelapan malam hari?
Kasidah Burdah diakhiri dengan bait syair yang mengekspresikan permohonan penyairnya agar Allah senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada Nabi Muhammad saw selama angin timur masih menerpa daun-daun pohon Ban, dan selama kafilah unta masih melangkahkan kaki-kakinya dengan diiringi dendang lagu para penggiringnya. Penulis mengakhiri kasidahnya: No. 159-160
وَأذَن لِسُحْبِ صَلاَةٍ مِنْكَ دَائِمَةٍ عَلَى النَّبِىِّ بِمُنهَلٍ وَ مُنْسَـجِمِ
مَارَنحَّتْ عَذَبَاتِ البَانِ رِيحُ صَبَا وَأَطْرَبَ العِيْسَ حَادِى العِيْسِ بِالنَّغَمِ

[Ya Allah Ya Tuhanku.. !]
Perintahkanlah selalu awan rahmat-Mu
Tuk mencurah bagaikan hujan deras
Pada [Muhammad] Nabi [Kekasih-Mu]
[Curahkanlah]..selama angin timur
Menerpa ranting-ranting pohon Ba>n
Dan [selama] penggiring unta
Mendendangkan lagu tuk menghiburnya
Analisis buku ini menggunakan pendekatan struktural (objektif, formal, dan analitis) dengan konsepsi dan kriteria berikut:
a. Karya sastra dipandang dan diperlakukan berdiri sendiri, mempunyai dunia, rangka, dan bentuknya sendiri.
b. Memberi penilaian terhadap keserasian di semua komponen yang membentuk keseluruhan struktur. Mutu karya sastra ditentukan oleh kemampuan menjalin hubungan-hubungan antar komponen tersebut sehingga menjadi suatu keseluruhan yang bermakna dan bernilai estetik.
c. Memberikan penilaian terhadap keberhasilan penulis menjalin hubungan harmonis antara isi dan bentuk karena amat penting dalam menentukan mutu karya sastra. Ini menghendaki analisis yang objektif sehingga perlu dikaji [diteliti] setiap unsur yang terdapat dalam karya sastra itu. Ia harus berlaku adil terhadap karya sastra dengan cara hanya menganalisis karya sastra tanpa mengikutsertakan hal-hal yang berada di luarnya.
d. Kajian isi struktur adalah pemikiran, falsafah, cerita, pusat pengisahan, dan tema. Sedangkan bentuk adalah alur [plot], bahasa, sistem penulisan, dan perangkat perwujudan sebagai karya tulis.
Buku ini didasarkan pada karya-karya al-Bu>s}i>ry yang terhimpun dalam Di>wān al-Būs}i>ry Syarafuddin Abu> Abdulla>h Muh}ammad ibn Sa’i>d. Di>wa>n ini diterbitkan Dār al-Kutub al-Ilmiyah pada 1995, disyarah Ahmad Hasan Basj. Sumber lainnya adalah karya Ibra>hi>m al-Ba>ju>ry, Syarh al-Burdah li al-Ima>m al-Bu>si>ry, karya Abdul al-Hama>misy, Al-Bu>si>ry Ma>dih} al-Rasu>l al-A‘zam, Umar Muh}ammad al-Mirgany, Al-Adab fi ‘Asr al-Mama>li>k wa al-Atra>k al-Us|ma>niyyi>n wa al-As}r al-H}adi>s| (Cairo: Mat}ba’ah Al-Azhar, 1955), dan Abdul Lat}i>f Hamzah, Al-Adab al-Misry min Qiya>m al-Daulah al-Ayyu>biyyah ila> Maji>’i al-H}amlah al-Faransiyah (Cairo: al-Nahd}ah al-Misriyyah, tth.)